Dalam komunikasi e-mail terbaru saya dengan seorang astronom yang bekerja di Observatorium Bosscha, terdengar kabar bahwa “[Observatorium Bosscha] Lembang semakin semarak dengan kegiatan-kegiatan yang non-scientific. Sedih saya melihatnya…” Tidak dispesifikasi lebih lanjut apakah yang dimaksud dengan kegiatan-kegiatan non-ilmiah, namun dari hasil chatting dengan kolega yang lain, terpetik kabar bahwa Observatorium menjadi tempat syuting dua acara TV: yang pertama adalah acara TV perjalanan (sejenis Jejak Petualang) dan yang kedua adalah acara reality show tentang wisata.

Dari dua jenis acara ini, yang telah mendapat persetujuan pimpinan Observatorium, kita dapat menyimpulkan begini: Dalam menampilkan dirinya kepada publik, Observatorium menunjukkan diri sebagai sebuah tujuan wisata. Salahkah ini? Saya rasa masalahnya tidak sesederhana itu. Itu tergantung pada kebijakan saat ini: Observatorium mau menjadikan diri lebih sebagai tempat wisata, atau fasilitas penelitian?

Foto udara Observatorium Bosscha pada tahun 1930an. Sumber: Bambang Hidayat

Coba kita telusuri dahulu motivasi pendirian Observatorium. Pada saat rencana pembangunan Observatorium digulirkan pada tahun 1916an, Observatorium dimaksudkan sebagai stasiun pengamatan bintang garda depan di langit selatan. Pendiriannya didorong oleh kemauan intelektual astronom Belanda untuk menyelidiki langit selatan yang pada waktu itu masih menjadi terra incognita (daerah tak dikenal). Lembang, yang berdekatan dengan kota Bandung, kemudian dipilih menjadi lokasi Observatorium karena topografi lokalnya yang mendukung, kejernihan dan kestabilan udaranya, dan dukungan dua orang: Ursone dan Karel Alfred Rudolf Bosscha, keduanya adalah pengusaha pemilik tanah di daerah Lembang yang menyumbangkan tanah mereka untuk pembangunan Observatorium dan juga menyerahkan hak kepemilikan tanah mereka kepada NISV (Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging, Perkumpulan Astronom Hindia Belanda). Tidak hanya itu, K.A.R Bosscha juga menyumbangkan sejumlah besar uang untuk pembangunan Observatorium.

Anton Pannekoek, astronom yang juga aktivis Partai Komunis Belanda, berharap bahwa Observatorium Bosscha akan menjadi kolega dari astronom-astronom Eropa maupun Amerika. Sumber: Wikipedia

Pada tahun 1929, astronom besar dari Belanda, Anton Pannekoek, menulis

“The legacy has been left to the Observatory destined to extend hospitality as “research associates” to astronomers from Europa and America…”

Dengan demikian Pannekoek berharap bahwa Observatorium Bosscha terus dapat menjadi kolega-kolega astronom Eropa dan Amerika. Dia juga berharap agar Observatorium Bosscha dapat menjadi pusat penelitian ilmiah yang penting:

“…the Bosscha Observatory bids fair to develop into an important centre of scientific research…”

Dari kiri ke kanan: J.G.E.G Voute (Direktur pertama Observatorium Bosscha), K.A.R Bosscha (penyandang dana), Ina Voute (istri J. Voute). Sumber: Bambang Hidayat

Harapan-harapan pada masa itu mungkin mencerminkan semangat the roaring twenties yang penuh inovasi teknologi. Meskipun Observatorium menghadapi permasalahannya sendiri pada masa Hindia Belanda (Perang Dunia II menghancurkan sebagian fasilitas Observatorium) dan pada masa-masa Orde Lama maupun Baru (Pada tahun 1970an, Pertamina berusaha membangun hotel di dekat Observatorium, dan laju raksasa Pertamina hanya bisa dihentikan oleh Soeharto yang pada waktu itu masih menjadi Presiden), namun derap langkah Observatorium untuk menjadi kolega bagi astronom di belahan dunia lain dan menjadi pusat penelitian astronomi di Indonesia masih berjalan sesuai dengan mimpi-mimpi pendirinya.

Bagaimana keadaan sekarang? Observatorium mengalami kondisi alam dan kebijakan yang relatif stabil semenjak pendiriannya hingga dekade 1980an. Booming ekonomi pada tahun 1970an akibat naiknya harga minyak menghasilkan kelas-kelas menengah baru di Indonesia, termasuk di Bandung. Tentu ini membutuhkan perumahan, listrik, dan juga cahaya. Pembangunan ini kemudian diarahkan ke daerah sekitar Bandung, termasuk daerah Bandung utara dan Lembang. Pada tahun 1999, ketika saya baru memulai tahun pertama kuliah astronomi, Bandung yang sedikit sejuk sedang mempertimbangkan pembangunan jalan layang Pasteur-Surapati. Factory outlet yang menawarkan barang-barang “bermerk” dengan harga terjangkau maupun butik-butik belum menggejala, dan Jalan Dago masih sepi pada akhir minggu. Lima tahun kemudian hal itu berubah sama sekali. Marilah kita ke utara sedikit, dan perjalanan ke Lembang pada tahun 1999 akan sangat berbeda dengan pada tahun 2004, meskipun angkutan umum yang digunakan masih sama. Jalan-jalan lebih terang dan baliho-baliho yang terang benderang memenuhi jalan menuju Lembang.

Foto udara Observatorium Bosscha di tahun 1980an. Sebuah oase ilmu pengetahuan di tengah kehijauan. Sumber: Observatorium Bosscha.

Kemudian datanglah akhir 1990an: Krisis ekonomi dan kejatuhan rezim. Urbanisasi Bandung yang masih berjalan dan krisis ekonomi membuat hidup Observatorium semakin sulit. Urbanisasi memaksa masyarakat dan pengembang mencari hunian baru di daerah sekitar Bandung, termasuk daerah sekitar Observatorium. Krisis ekonomi membuat orang berpikir lebih pragmatis, sayangnya ini juga termasuk pejabat-pejabat lokal yang lebih memilih membuat kebijakan yang mendatangkan penghasilan bagi kas daerah. Ini termasuk pembangunan hotel, tempat-tempat usaha, dan ruang iklan. Sayangnya lagi pembangunan-pembangunan ini tidak diikuti dengan kebijakan yang mengatur polusi cahaya, karena kita semua tahu bahwa bertambahnya populasi dan aktivitas manusia berarti bertambahnya intensitas cahaya. Bila ini tidak diatur, maka akan semakin tinggi intensitas cahaya yang lepas ke langit. Krisis ekonomi pula yang membuat Observatorium megap-megap mencari dana. Dengan dana operasi yang masih ditanggung antara berbagai donasi internasional dan anggaran kampus, muncullah pula kebijakan privatisasi kampus negeri (saya pikir agak rancu kalau kita sebut hal ini otonomi kampus karena dalam hal ini kampus hanya dibebaskan dari anggaran pemerintah, lebih dari itu tidak) yang memaksa Observatorium harus mencari cara-cara lain untuk menghidupi dirinya.

Petualangan Sherina (Riri Riza, 2000) punya andil dalam mendongkrak popularitas Observatorium Bosscha. Sumber: Miles Films.

Bagaimana Observatorium menghadapi ini semua? Jawabnya: membuka diri pada pengunjung. Pada suatu hari keluarlah film Petualangan Sherina yang menaikkan nama Observatorium dan hampir semua anak memaksa orang tuanya untuk melihat Observatorium (pengalaman penulis selama menjadi pemandu Malam Umum: sebagian besar anak-anak datang ke situ karena menonton Petualangan Sherina). Mungkin Sherina hanya satu faktor saja, tapi semenjak itu lebih banyak orang berkunjung ke Observatorium. Jumlah penerimaan publik ditambah volumenya menjadi maksimal 450 orang di siang hari selama 5 hari dalam satu minggu (kecuali Minggu dan Senin). Di satu sisi hal ini memungkinkan popularisasi kepada publik yang lebih besar dan juga menambah penghasilan Observatorium, di lain pihak ada bahaya yang tidak dirasakan: bergesernya peran Observatorium dari fasilitas penelitian menjadi observatorium publik.

Semenjak berdirinya, Observatorium selalu mengadakan penerimaan publik secara rutin, tapi hal itu tidak pernah menjadi hal utama. Dalam beberapa tahun terakhir ini hal itu menjadi kegiatan utama, sehingga akhirnya timbul pertanyaan paling tidak dalam benak saya: Observatorium Bosscha mau diarahkan ke mana?

E.C. Krupp, direktur Observatorium Griffith, ahli sejarah dan kolumnis tetap Sky and Telescope. Sumber: Observatorium Griffith.

Mungkin ada baiknya Observatorium kini memikirkan kembali arah kebijakannya. Observatorium Bosscha mau dijadikan apa? Observatorium publik seperti Observatorium Griffith, Observatorium riset dan pendidikan seperti Observatorium Leiden, atau gabungan keduanya seperti Observatorium Gunma? Ketiga-tiga memiliki gaya manajemen yang berbeda. Observatorium publik seperti Griffith pada prinsipnya dijalankan oleh orang-orang yang kompeten dalam mempopulerkan astronomi kepada masyarakat. Selain menguasai dasar-dasar astronomi, mereka juga menguasai komunikasi publik. Program mereka pun jelas: terstruktur dan terbagi antara program untuk masyarakat awam atau untuk sekolah-sekolah. Dengan kata lain mereka juga memiliki pendekatan berbeda-beda terhadap jenis pengunjung yang dihadapi. Direktur Observatorium Griffith, Edwin Krupp, adalah seorang ahli sejarah dan salah satu kontributor tetap di Majalah Sky & Telescope, salah satu majalah astronomi populer yang cukup terkenal.

Di satu sisi Observatorium riset seperti Leiden maupun Palomar diisi oleh astronom-astronom terbaik di bidangnya yang setiap hari melakukan aktivitas penelitian yang terencana. Observatorium bersejarah seperti Palomar, yang hingga saat ini masih digunakan untuk penelitian, juga memiliki program kunjungan publik di siang hari namun dengan peraturan yang ketat:

The Palomar Observatory is an astronomical research facility. As such, the Observatory grounds are closed to visitors after 4:30 p.m. Night-time visits cannot be accommodated without interfering with the scientific studies.

Dengan pengumuman ini, Observatorium Palomar jelas-jelas menyatakan bahwa riset adalah yang utama dan kegiatan riset tidak akan dihentikan demi kunjungan malam. Bandingkan dengan Observatorium Bosscha yang beberapa tahun lalu menghentikan pengamatan malam hari karena kedatangan seorang pejabat yang ingin melihat fasilitas peneropongan itu.

Pameran di Observatorium Gunma, Jepang. Komunikasi publik dimanajemen dengan baik di sini. Sumber: Observatorium Astrofisika Gunma.

Gabungan observatorium publik dengan observatorium riset seperti Gunma juga menghasilkan desain yang berbeda: Ada pemisahan antara teleskop yang diperuntukkan bagi penerimaan kunjungan dan pengamatan publik, dengan teleskop yang diperuntukkan bagi penelitian. Keduanya terpisah jarak yang cukup jauh (dan juga ketinggian yang berbeda) sehingga kegiatan yang satu tidak mengganggu yang lain. Staf yang bertugas dalam penelitian maupun komunikasi publik juga adalah orang-orang yang berbeda (dan juga kompeten dalam hal tersebut!) sehingga tidak ada tanggung jawab yang tumpang tindih.

Arah kebijakan Observatorium kini yang tidak terlihat jelas arahnya mau ke mana di antara tiga pilihan tersebut. Melihat sejarah pendiriannya, kita bisa melihat bahwa pembangunan Observatorium Bosscha dimaksudkan sebagai fasilitas penellitian garda depan pada zamannya. Idealisme yang luhur ini sudah sepantasnya kita pertahankan, karena sains juga adalah bagian dari kebudayaan dan olah pikir intelektual. Namun bila kondisi berubah drastis, mungkin fungsi Observatorium dapat berubah drastis tapi apapun pilihannya dari ketiga fungsi di atas, yang tidak boleh diabaikan adalah kebijakan-kebijakan yang akan disusun harus konsisten dengan arah yang hendak dituju (walaupun demikian, saya tidak berani membayangkan Observatorium Bosscha menjadi murni observatorium publik karena masih ada peran Observatorium sebagai fasilitas Departemen Astronomi yang bertugas mendidik seseorang menjadi ilmuwan). Akhir-akhir ini terancamnya Observatorium Bosscha oleh lingkungan sekitar semakin terdengar, termasuk ke Negeri Belanda. Pernyataan prihatin berdatangan, dan dana bantuan mengalir. Seluruh mata publik kini memandang ke Observatorium Bosscha, bertanya-tanya, “Mau jadi apa Observatorium Bosscha?”

Siapkah kita menjawab pertanyaan itu?

Saya pribadi lebih memilih Observatorium tetap menjalankan peran gandanya sebagai observatorium riset sekaligus publik, namun mampukah kita menjalankan kedua peran itu tanpa mengganggu satu sama lain? Namun bila kita benar-benar ingin jadi Observatorium riset sekaligus publik, mampukah kita membangun fasilitas dan sumber daya untuk menjalankan peran ganda tersebut?

Written by Tri L. Astraatmadja

After living for 10 years in Europe as a Master's student, PhD researcher, and a postdoc, in 2016 Tri L. Astraatmadja moved on to the United States for a second postdoctoral appointment at the Department of Terrestrial Magnetism, Carnegie Institution for Science, Washington DC. He is now in his third postdoc at the Space Telescope Science Institute in Baltimore, MD.

40 comments

  1. pertanyaan lain yg mendasar juga. sudahkah bosscha memiliki manajemen yg baik untuk mengelola semua itu.

    jadi inget tri ada yg pernah nyentil. boasscha sekarang dah jadi maribaya.

  2. btw.. gue rasa juga tiap pemimpin punya gaya n style yg berbeda.. so it just started hmm kita liat aja kedepan gimana…. may be si bapak punya gaya n manajemen yg berbeda juga visi yg beda ?

    ada perubahan yg terjadi baik di bosscha n itb. visi masa depan didengung2kan tapi kemanakah arahnya dan akankah tercapai untuk menjadi lebih baik? let’s wait n see… tp dalam menunggu adakah yg bisa kita lakukan?

    langkah lain populerisasi astronomi di ITB juga melalui olimpiade astronomi baik nasional, internasional maupun asia pasifik? well.. hasilnya mungkin bisa kita lihat juga…. tp do anybody care about it??? menn di indonesia itu lebih laku miiss2an ketimbang yg beginian.

    riset mulai digalakkan tapi mungkin kita harus juga melihat publikasi2nya di masa depan.

    program save bosscha yg sedang digalakkan kemana2 hasilnya seperti apa??? hehehe banyak pertanyaan di kepala jadinya yah tri?

  3. dohhh kok gue jd hobi komment gini yahhhh. mo nambah soal bandung.. perkembangan Fo bener2 marak.. tapi yg jadi pertanyaan bandung tak lagi punya produksi. tekstil mati.

    dengan pengunjung2 yg itu2 aja.. suatu hari bagaimana nasib bandung?

  4. Gw rasa manajemen Bosscha emang kacau dalam menjalankan peran gandanya saat ini. Mungkin kalau kita emang punya visi ke arah sana ada baiknya kita prioritaskan dulu pada pembangunan yang satu baru nanti kalau sudah agak mapan, baru pindah ke yang lain. Kelihatannya sekarang tumpang tindih jadinya tidak ada konsentrasi yang jelas. Riset mandek, sementara manajemen penerimaan rombongan juga volumenya terlalu banyak malahan kadang-kadang tidak konsisten dengan kebijakan sebelumnya: dulu dikatakan tidak boleh ada lebih dari 2 malam umum dalam sebulan, sekarang ujug2 ada 3 malam bok. Kesannya jadi kayak tempat wisata dong padahal bukan untuk itu Bosscha dibangun.

    Sekarang aktivitas riset sudah mulai jalan, tapi coba kita lihat apakah itu beneran serius atau karena emang dapat duit banyak. Yang jelas supaya riset bisa jalan, polusi cahaya harus dikurangi dulu. Mudah-mudahan risetnya Dading tentang distribusi air glow itu bisa keluar hasil.

  5. Malam khusus itu banyak dikritik karena tidak konsisten dengan kebijakan sebelumnya yang membatasi jumlah kunjungan malam. Malah rasanya dulu waktu gw masih jadi penerima rombongan (tahun 2002), istilah itu belum ada. Gak tau juga nih kenapa tiba-tiba muncul klausul seperti itu, mungkin karena banyak tuntutan agar publik bisa ikutan ngamat di malam hari. Tapi kalau kebanyakan gitu terus gimana dong dengan malam-malam yang dialokasikan untuk riset?

  6. Menurut saya sih, yang mesti diaktifkan itu kelompok2 astronomi amatir. Dg demikian, keingin tahuan publik ttg astronomi bisa difasilitasi tanpa harus rame2 ke Bosscha. HAAJ di Jakarta saya rasa sudah cukup bagus. Sekarang kita perlu berusaha supaya kelompok2 amatir tsb juga berkembang di kota lain dg fasilitas yg mencukupi.

    Waktu berkunjung ke Bosscha bbrp waktu lalu saya lihat serombongan pengunjung yg datang dg bis wisata, berpose di depan kupel seolah-olah sedang berpiknik, tapi waktu sesi ceramah astronomi malahan bengong sendiri. Lebih parah lagi, waktu dikasih kesempatan neropong lewat teleskop, komentarnya malahan “loh, koq cuma begini aja”. Pengunjung model ini yg mestinya dibatasi. Silahkan buka observatorium untuk publik, entah dg nama malam umum, khusus, atau whatever, tapi jangan biarkan publik menganggap Bosscha hanya sebatas objek wisata.

  7. Wah kita tidak bisa dong memilah-milah pengunjung berdasarkan keseriusannya karena kita gak bisa baca pikiran orang, hehehehe… tapi saya memang sudah tekankan berkali-kali bahwa perlu diperjelas bahwa fungsi Observatorium Bosscha yang utama adalah sebagai fasilitas penelitian, bukan objek wisata.

    Itulah makanya saya menyarankan, kalau mau merespon keingintahuan publik maka perlu disusun semuanya dengan rapi: ya fasilitasnya, ya model penerangan publiknya, dan lain-lain yang bertujuan membangkitkan rasa keingintahuan dan apresiasi publik terhadap sains, kan itu tujuannya public outreach.

    Kerja sama Lembang dengan komunitas astronom amatir itu juga bagus dan harus dikembangkan, supaya publik semakin paham tentang fungsinya observatorium. Kenapa tidak dicoba saja supaya Observatorium dan Planetarium Jakarta jadi seperti Observatorium Griffith di Indonesia? Menarik sekali tuh!

  8. Ke arah penelitian atau ke arah museum?
    Kalo penelitian harus dibikin rancangan penelitian jangka panjang
    penelitiannya yang khas dengan bosscha jangan maksa penelitian yang tidak didukung perlatanan dan sumberdaya yang memadai. Cari celah yang bisa bikin boscha dilihat dan jadi rujukan di dunia.
    Rebut dukungan masyarakat sekitar, ini yanggw ga liat belakangan.
    Dan satu lagi jangan berharap menjadi kaya raya ketika memilih menjadi peneliti kalau mau kaya raya jadi pedagang aja. Kalo kebetulan jadi kaya anggap aja kebetulan :p

  9. Bosscha kayaknya sih sudah ga bagus lagi buat penelitian. Nah kalau udah kayak gini Bossha mau diapain? Buat pengamatan bintang ganda aja sudah susah. Gw jadi inget SterrenWacht Sonnenborg yang di Utrecht, nasib Bosscha khan dah kayak gitu..

    Ada baiknya Indonesia mulai mikir buat bikin tempat peneropongan bintang yang baru. Tapi Bosscha tetap kita rawat.

    Tahun ini Pak Taufik khan dapet riset hibah dari kementrian riset (cek di website menristek), temanya adalah “menuju Observatorium Multiwavelength” kayaknya ini bisa jadi langkah awal untuk merealisasikan sebuah observatorium baru.

    Atau kita tiru Gunma ajah? Ide membangun jaringan amatir astronomi sudah pernah gw dengan dari pak koen, tapi ga tau kelanjutannya. Pan beliau lagi sibuk ngurusin olimpiade. Kalau jaringan sudah terbangun, observatorium tidak akan diserbu secara sporadis lagi.

    Riset? Siapa yang jalan? Ga keliatan lagi tauk! πŸ˜›

    Atau menurut loe kondisi langit Lembang masih bagus? Ah u jangan kidding lah! πŸ˜€

    Tri, gw masukin blog loe sebagai link di blog gw yak!

  10. Wah ton lu jangan fitnah2 loe, kata siapa riset gak jalan? Jalan lagi, kan dapat duit hehehehehe… (tapi gak tau deh apakah itu crash program aja karena lagi banyak duit atau emang awal dari sebuah riset berkelanjutan)

    Anyway, Indonesia emang sudah seharusnya bikin observatorium baru, di tempat yang oke. Di Papua misalnya.

    Observatorium Multiwavelength? Wah gw belum baca programnya, tapi…ini serius apa jargon? Memangnya lokasi Bosscha bisa mendukung panjang gelombang lain? Inframerah apa bisa? Sub-mm? Radio? Apa ada studi kelayakannya kayak dulu Lembang disurvey dulu beberapa tahun?

    Soal kelayakan langit Bosscha, loe udah baca ini belon? Itu kondisi lima tahun lalu loh, sekarang gw rasa dah tambah parah, tapi di situ diberi garis besar mitigasi yang bisa dilakukan. Gw sih nungguin hasil penelitian Dading soal distribusi sky brightness di langit Lembang, pasti berguna untuk analisis lebih lanjut. Coba loe diskusi sama Pak Hakim atau babeh soal polusi cahaya di Lembang.

    IMHO, polusi cahaya di Lembang bisa dimitigasi hanya bila pemerintah campur tangan dan membuat perda yang ketat soal peruntukan lahan di sekitar Lembang, dan perda soal pengaturan cahaya, kap lampu, dan jenis lampu yang bisa digunakan.

    Jangan lupa loh, Obervatorium Palomar juga punya masalah soal polusi cahaya, dan itu adalah salah satu teleskop terbesar di dunia.

  11. hehehe… istilah yg dipake si sawung persis ma istilah yg dikaish seseorg kalo ngobrol ma gue. OBs Bosscha kok lama2 kek museum????? ada yg dateng diliatin ini itu doank. jd inget ma yg bangga suting ama prita laura hahahahaha

  12. Barusan liat di ANTV liputan Bosscha-nya. Presenternya mampir ke Bosscha waktu jalan2 di Lembang, dateng cuma liat2 teleskop dan pura2nya neropong bintang (padahal siang hari), lantas masuk ke perpus Bosscha (lah, segampang itukah masuk ke perpus Bosscha untuk umum?). Selesai dari Bosscha lantas lanjut mengunjungi objek wisata lain. Kelihatannya Bosscha udah betul2 diposisikan jadi objek wisata nih 😦

  13. Yah, in my blunt opinion, kayaknya ada banyak visi dalam banyak kepala di jurusan. Ya di bagian populerisasi astronomi (termasuk olimpiade), ya di bagian riset. Tapi, orang-orang yang terlibat ya itu-itu aja. Belum lagi mengurusi perkuliahan (termasuk kurikulum). Bagaimana nggak blunder? Haduh, klo gue sih setuju banget kalau dibangun observatorium baru. Tapi UUD ya? Ujung-ujungnya duit. Alamaaak!

    *nerusin mimpi ngamat exoplanet pake teleskop gede yang citra hasil ngamatnya langsung masuk pipeline, nggak usah susah-susah mantengin satu2 bermalam-malam*

  14. Yang utama harusnya dipikirkan posisi Observatorium sebagai observatorium riset, jangan karena aji mumpung trus banting setir jadi observatorium publik (jangan-jangan ini komersialisasi saja? :-?) lalu riset gak ada arahannya.

  15. Hmm, tadi kan bimbingan sama… yah, lu tau deh hehehe. Nggak usah sebut nama ya, pokoknya petinggi OB. Sebenernya lebih dibilang ngobrol riset secara global sih drpd tesis gue *colek2 Vivi minta persetujuan*

    Nah, boleh dong ya gue optimis dg (niat) riset di OB. Setidaknya yg gue tau ya di bidang gue lah. Misal, transit exoplanet yg gue kerjain taun lalu bakal diterusin (juni-juli ini), trus upaya bikin prosedur standard u/ reduksi jadi waktu pengamat u/ mereduksi data bisa berkurang.. hmmm trus niat bikin teleskop radio (targetnya tahun ini udah berdiri ceunah). Hmm, piye, bagaimana?

  16. Ya mudah-mudahan deh ya. Kali ini gw lebih senang kalau kecurigaan gw salah. Gw rasa Lembang memang harus mengurangi jumlah kunjungan publiknya karena itu jadi mengalihkan tenaga kerja yang seharusnya meneliti pada kerja-kerja publik. Harus dipikirkan bagaimana mencari sumber dana lain.

  17. ayooo … bubarkan Bosscha! Bikin Observatorium Bosscha Pergaulan! Hahaha …
    (PDI aja punya PDI-P, PDI Pergaulan, masa’ Bosscha ndak ada sih … Nanti kita pindah ke Papua, jadi departemen astronomi Universitas Cendrawasih hahaha)

  18. kalo di papua, langitnya dapet utara-selatan ya?

    gimana kalo observatoriumnya dibangun di ujung selatan indonesia aja, pulau roti kalo gak salah . . . .

    setelah beberapa hari terakhir bolak-balik ada di bosscha malem-malem, jadi kepikiran tentang permasalahan cuaca yang sering dialami mahasiswa ketika mendapatkan tugas kuliah. sebenarnya langit malam beberapa hari ini cerah terus. padahal waktunya bukanlah waktu kuliah. kan sayang banget jadi terlewat dan tersia-sia gitu. sementara ketika kuliah, cuaca/iklimnya tidak mendukung untuk langit cerah berhari-hari.

    jadi, gimana caranya supaya waktu-waktu sekarang ini bisa dimanfaatkan sebagai waktu untuk program pengamatan. . . .

  19. soal obs. multiwavelength itu sebenarnya mau dibangun di daerah kupang. memang dalam waktu dekat ini bosscha akan kedatangan 1 dari 4 teleskop radio untuk keperluan simulasi interferometer yang kemudian akan digunakan di kupang. masalahnyaaaaaaa…..itu teleskop ga dateng2x gara2x masalah duit. heran, duit lagi duit lagi.

    klo soal kunjungan publik memang aku akui bosscha dah kebablasan. bagian manajemennya ga beres tuh (ga mau nyebut nama). seenaknya aja nerima org yg mau berkunjung dadakan. malahan pernah nerima kunjungan khusus padahal malem itu ada pengamatan. kadang aku berpikir orang di bagian manajemen kunjungan itu diganti aja sama yg lebih keras.

    aku pikir sih bosscha jadi gini ya, pertama, krn org2x di bosscha sendiri ga tegas dan seringkali plin-plan. contohnya, bikin pembatasan kunjungan dg mensyarat izin berkunjung sebulan sebelumnya. nyatanya org yg tiba2x nongol malah maen terima aja. kita yg bikin peraturn kok malah kita sendiri yg melanggar?! contoh lainnya, mengorbankan waktu pengamatan gara2x ada org2x dari itb yg mau berkunjung. memang skrg bosscha di bawah itb tapi ga bisa gitu dong caranya. heraaaaannn….

    penyebab lainnya bosscha jadi gini juga krn masyarakat skrg lebih berani. dari ceritanya pa’ yaya (satpam) waktu jaman orba dulu ga ada org yg berani masuk ke bosscha klo blom izin sebelumnya. begitu liat rambu dilarang masuk di gerbang bawah langsung ga berani mereka. laaahhh, skrg malah kurang ajar. org luar seenaknya aja masuk bahkan tengah malem pun dateng. ada pa’ satpam di pinggir jalan malah dicuekin maen nyelongong aja ga permisi dulu.
    aku punya pengalaman menyebalkan soal pengunjung. dulu (lupa waktunya) waktu aku lagi ngamat di zeiss sendirian tengah malem, lagi mati2x-an pointing (magnitudo 10, kebayang ga susahnya) tiba2x ada org yg gedor2x pintu. eh, ternyata itu pengunjung yg pengen ikut neropong katanya. langsung aja aku bilang (hampir ngebentak) tanya pa’ satpam dan langsung banting pintu (braaakkkk). he he he…
    klo mau tau pengalaman menyebalkan lainnya, japri aja deh. masih banyak nih dan bakal nyebut nama. ha ha ha…

    dari kenyataan ini memang susah juga mengembalikan fungsi bosscha benar2x menjadi obs. murni riset. klo pun bisa ini bakal waktu lama sampai beberapa generasi. dan selama beberapa generasi itu juga bosscha harus dipegang oleh org2x yg memang kuat dan konsisten. di masa2x skrg ini semakin keliatan, kita butuh org2x yg berkarakter spt pa’ bambang.

  20. Salut buat Denny, pengamat tulen! Ceritanya Denny sebenernya bisa dielaborasi lagi jadi artikel blog sendiri, hehehehe…

    Saya rasa sudah jelas kalau manajemen penerimaan kunjungan di Lembang sudah perlu diperbaiki. Saudara-saudara yang membaca komentar Denny bisa percaya pada ceritanya karena doski adalah salah satu pengamat aktif di Lembang. Mengamat bintang magnitudo 10 pakai telopong pemandu di Zeiss besar, gak mudah loh!

  21. sayang kalo bosscha ga jelas arah tujuannya, mau ke mana ke wisata atw ke penelitian?? emg kalo udh terbentur masalah materi ya no comment. Up..up..up..jgn sampe pindah ke tangan orng yg ga becus me manage bosscha. Bisa2 ni tempat di sulap & jadiin kandang hayam gimana??? hiks..hiks..hiks..

  22. mas ajarin gw dong cara bikin teleskope..8″ maybe?cerminnya sulit di dapat ga di indo?ud cari2 di internet tp masih belum memuaskan.mgkn karena inggris gw yg masih anak sd kali ya?hehe..kalo berkenan email me at badjingan22@yahoo.com..matur nuwun ngih..

  23. Satu lagi: peserta olimpiade Astronomi tak semestinya dilatih di OB. Semua kandang pengamat (Pannekoek, Sirius dan bedeng Gaby) dimakan peserta pelatihan semua.

    Yang ngamat? Maap aja kk, ga usah tidur aja kayaknya πŸ˜€

    @ums: Dodol? Gak bisa bikin slide? Slide PPT gak bisa bikin?
    Anak Himastron mana tuh? H* Pergaulan ya? Awas aja kalo ada anak H* beneran gak bisa bikin slide, dibabat aja tuh orang πŸ˜†

  24. hehehe … itu pengalaman topik observasi gue tuh. Jaman itu bedeng penuh iyalah .. masa gue nginep bareng gaby? trus… pannekoek diisi anak2 olimpiade (ya iyalah mereka bayar.. gue gratisan.. cuma numpang selonjoran). Sirius belon ada….

    akhirnya gue habis ngamat utak atik data di GoTO tapi begitu beres.. ternyata masih malam… akhirnya gue duduk dan tiduran di sofa ruang baca…..

    edun ah masa ruang baca jd tempat tidur… ga pada tempatnya.

    di lain hari saat gue gagal ngamat pun.. akhirnya gue nelpon ade gue buat jemput. soalnya ga ada tempat buat istirahat!. Kalau jaman s1… bedeng kosong selalu disediain Pak Moedji buat kita2 nungguinc cerah.

  25. Nasibnya sama ama Edwards, waktu ngamat Juni-Juli kemarin gak dapet tempat buat tidur. Kadang nongkrong di balai van albada, jadinya.

    Btw teleskop radionya dah mau diresmiin besok senin 8 Des 2008 jam 11.

    sama info lg, ntar pas gerhana matahari cincin bulan januari bosscha mau ngamat trus mau ngundang beberapa departemen spt depkominfo lalu mo distreaming. semoga gak banyak orang yg dateng kayak mars 2003 lalu 😦

  26. kalo ga salah hotel yang mw dibangun pertamina itu “Hotel Patradjasa”… yang akhirnya dibangun di Jalan Dago bukan…?????

  27. Tahun 1994 sy pernah kunjungan study ke Boscha…(kerjasama FH UNPAD-Leiden Univ, Monash Univ-Australia) kunjungan ini sebagai bagian dari Air and space Law Caurse..
    actually, katakan saja hanya pemerhati, krn tidak konsentrasi di field Astronomi n so on..

    dari hasil ngobrol sy dengan staf boscha waktu itu, saya lalu berkesimpulan ” ternyata orang belanda (Tuan.K.A.R Bosscha), yg menjadi pengusaha Teh saat itu telah dengan total spirit,, memberikan sesuatu yang penting bagi Indonesia.

    yg terlintas dibenak saya, stlh baca topic dan opini diatas, “ternyata Indonesia sudah akan kehilangan Tools yg berharga di negara ini”.yaitu Observatorium Bosscha

    di jaman saya SD SMP SMS dikenal dengan “Laboratorium Peneropongan Bintang” rasa ingin ke sana sangat tinggi dengan nama LPB. saat itu bayangan saya betapa luar biasanya kali Lab ini. ”

    sy mau mengindikasikan kenapa OB ((bukan Office Boy yg di acara tv ya) ini..sekarang menghadapi masalah serirus ” dan sekaligus memberi pandangan utk diangkat sebagai bahan diskusi :
    1. sifat dasar birokrat tidak visioner dengan core competency/ skill n professinya /inkonsisten.. dalam arti, mau menerima jabatan asalkan lebih tinggi dari sebelumnya walaupun di departemen yg sdh tidak inline..(manusiawi). ini bisa terjadi krn paksaan atasan (istilahnya dibuang atau ybs ingin jabatan yg lebih tinggi).

    2. kurang menyukai pemeliharaan.

    3. termasuk sistem dlm UU yg mengatur tata ruang tdk dibuat dengan terlebih dahulu melakukan riset utk menetukan layak atau mengenai hal2 khusus di ruang atau sekitarnya.

    4.bisa dikatakan masyarakat User dr OB ini %tasenya sangat kecil (astro-logi) sehingga perhatian terhadap continuitasnyapun %tasenya sangat kecil..
    akibatnya pembangunan dan pengembangan prasarana atau fasilitas lainnya dengan minimnya %tase diatas menjadi rendah dan mereka tdk aware bhw itu bersifat gangguan thdp existensi OB (dgn segala sensitifitasnya).

    5. untk akurasinya, kita harus memahami bhw bagi masy yg tdk berkonsentrasi di bidang ini, OB ini hanya bersifat pengetahuan umum dan ingin melihatnya dari dekat,(faktor inilah boosternya banyak pengunjung seakan akan menjadikannya sbg objekwisata bagi mereka) kondisi ini harus dibahas tersendiri agar kebutuhansbg faktor wisata dengan fungsi utamanya perlu di managemeni(kollaborasi) agar tida mullfungsi.

    6. OB perlu difikirkan untuk di inugurasikan sebagai Harritage of minkind. agar tetap menjadi objek vital yg harus diperhatikan lifetimenya baik dari sudut operasional- teknisnya begitu huga budgetting.

    7.harus fokus dengan pemahaman ” suatu Lab hanya di hargai oleh para peneliti ilmuwan sejati, bukan oleh bisnisman atau oppurtunis sektor sektor lainnya.

    8. pemerintah kab bandung barat atau prov jawabarat sekayaknya berperan sebagai User admin.. dan ITB atau dirjendikti User core compentency.

    9, pemerintah lokal harus realize bhw Boscha tidak mudah diganti seperti mengganti jembatan..atau sekedar mendirikan gedung (visibility studies :teknikal, finance,lokasi, n kedekatannya ke pusat keilmuawannya misalnya ITB).

    10. ajak pengusaha Indonesia untuk mendukung dan berbuat sesuatu seperti pengusaha teh belanda ini.. dengan argumen justifikasi yg berbasis visioner untuk mencegah terjadinya discontinued dari OB ini,,

    (bersambung…)

  28. Sekarang sedang dijajaki kemungkinan untuk membangun planetarium di Bandung yg dilengkapi dengan teleskop kecil agar sebagian masyarakat bisa “ditampung” di sana. Tidak perlu semuanya mesti ke Bosscha. Sebisa mungkin fungsi Bosscha dikembalikan ke tujuan awalnya: tempat penelitian.

    Pembangunan planetarium ini sedang didiskusikan antara pihak Obs. Bosscha, Pemkot Bandung, dan Pemprov Jabar.

    Ini cuma salah satu usaha. Maklum, tangan cuman 2. Jadi mohon bersabar atas perkembangannya. Semoga ke depan bisa melakukan yang lebih baik lagi. πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: