ini loh yang namanya StrippenkaartBegini caranya sistem transportasi Belanda bekerja: seluruh negeri Belanda sudah dibagi berdasarkan zona angkutan. Kita membayar jasa angkutan umum berdasarkan jumlah zona yang kita lewati dalam perjalanan ke tempat tujuan. Selama masih dalam satu zona ongkosnya akan sama, bisa berada di zona lain maka ongkosnya ditambah, dan semakin banyak zona yang kita lewati, semakin bertambah ongkosnya.

Pengguna sistem transportasi Belanda membayar dengan strippenkaart: Kita beli kartu resmi dengan 15 baris (pendek) atau 45 baris (panjang). Setiap kali kita memasuki kendaraan umum (bus, metro, atau tram), sebut saja tujuan kita ke mana dan supir akan mencap strippenkaart kita sebanyak jumlah zona yang kita lewati dalam perjalanan. Satu zona ongkosnya 2 strip (alias 2 baris) dan berlaku selama 1 jam. Artinya, bila dalam 1 jam kita pindah kendaraan (overstappen kalau orang Belanda bilang), kita gak perlu lagi mencap strippenkaart itu, tapi tinggal tunjukkan saja cap terakhir kita dan bilang “ik moet overstappen” (pindah kendaraan bos!), lalu nanti supirnya akan manggut-manggut dan bilang, “alsjeblieft” (mangga atuh jang!).

Dengan sistem ini, maka dalam satu jam kita dapat berpindah-pindah kendaraan seenak dengkul kita asalkan tempat-tempat tujuan tersebut masih dalam zona yang sama, tanpa ada tambahan ongkos lagi. FYI strippenkart 45 baris harganya 19.80 euro, itu artinya satu strip ongkosnya 44 sen dan satu zona (2 strip) berarti 88 sen.

Pada suatu hari gw telah mencapai rekor dengan naik empat buah bus dalam waktu satu jam. Rutenya begini: dari apartemen temen ke kampus lalu jalan kaki ke apartemen sendiri lalu naik bis ke stasiun. Gara-garanya sih karena gue harus mengembalikan buku di perpustakaan pusat, tapi buku adanya di ruang kantor gue di kampus. Pada saat yang sama gue juga harus kursus bahasa Belanda dan bukunya ada di rokum. Kok gak naik sepeda aja sih? Lha kan lagi kaput, jadi gw naik terus nih.

Okay, dari apartemen temen di dekat halte Arendshorst, naik bis nomor 45 ke Stasiun Leiden Centraal. Gw langsung naik dan bilang, “Naar Leiden Centraal Station,” dan supir langsung mencap sambil bilang, “alsjeblieft”. Turun di Leiden Centraal Station pindah naik bus nomor 57 ke kampus, tidak perlu lagi dicap. Di kampus ngambil buku sebentar, lalu naik bus yang lewat apartemen. Sampai apartemen, ambil buku bahasa Belanda, ngobrol sama roommate sebentar, lalu langsung ngejar bus yang ke Stasiun Leiden Centraal. Di stasiun Leiden Centraal, batas waktu yang tertulis di strippenkaart tinggal 10 menit sementara bus ke perpustakaan baru akan datang 30 menit lagi. Ya sudah, mending gue jalan kaki deh!

Jadi totalnya, empat bus dalam waktu satu jam. Itu rekor sampai hari ini. Coba bandingin tuh kalau naik patas ac di Jakarta (bus di Belanda ya kualitasnya se-patas ac lah. Kalau dibandingin sama metro mini kan gak fair, hehehehe), empat kali naik bus dah berapa ongkosnya tuh.

Written by Tri L. Astraatmadja

After living for 10 years in Europe as a Master's student, PhD researcher, and a postdoc, in 2016 Tri L. Astraatmadja moved on to the United States for a second postdoctoral appointment at the Department of Terrestrial Magnetism, Carnegie Institution for Science, Washington DC. He is now in his third postdoc at the Space Telescope Science Institute in Baltimore, MD.

1 comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: