Dalam komunikasi e-mail terbaru saya dengan seorang astronom yang bekerja di Observatorium Bosscha, terdengar kabar bahwa “[Observatorium Bosscha] Lembang semakin semarak dengan kegiatan-kegiatan yang non-scientific. Sedih saya melihatnya…” Tidak dispesifikasi lebih lanjut apakah yang dimaksud dengan kegiatan-kegiatan non-ilmiah, namun dari hasil chatting dengan kolega yang lain, terpetik kabar bahwa Observatorium menjadi tempat syuting dua acara TV: yang pertama adalah acara TV perjalanan (sejenis Jejak Petualang) dan yang kedua adalah acara reality show tentang wisata.
Dari dua jenis acara ini, yang telah mendapat persetujuan pimpinan Observatorium, kita dapat menyimpulkan begini: Dalam menampilkan dirinya kepada publik, Observatorium menunjukkan diri sebagai sebuah tujuan wisata. Salahkah ini? Saya rasa masalahnya tidak sesederhana itu. Itu tergantung pada kebijakan saat ini: Observatorium mau menjadikan diri lebih sebagai tempat wisata, atau fasilitas penelitian?
Foto udara Observatorium Bosscha pada tahun 1930an. Sumber: Bambang Hidayat |
Coba kita telusuri dahulu motivasi pendirian Observatorium. Pada saat rencana pembangunan Observatorium digulirkan pada tahun 1916an, Observatorium dimaksudkan sebagai stasiun pengamatan bintang garda depan di langit selatan. Pendiriannya didorong oleh kemauan intelektual astronom Belanda untuk menyelidiki langit selatan yang pada waktu itu masih menjadi terra incognita (daerah tak dikenal). Lembang, yang berdekatan dengan kota Bandung, kemudian dipilih menjadi lokasi Observatorium karena topografi lokalnya yang mendukung, kejernihan dan kestabilan udaranya, dan dukungan dua orang: Ursone dan Karel Alfred Rudolf Bosscha, keduanya adalah pengusaha pemilik tanah di daerah Lembang yang menyumbangkan tanah mereka untuk pembangunan Observatorium dan juga menyerahkan hak kepemilikan tanah mereka kepada NISV (Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging, Perkumpulan Astronom Hindia Belanda). Tidak hanya itu, K.A.R Bosscha juga menyumbangkan sejumlah besar uang untuk pembangunan Observatorium.
Anton Pannekoek, astronom yang juga aktivis Partai Komunis Belanda, berharap bahwa Observatorium Bosscha akan menjadi kolega dari astronom-astronom Eropa maupun Amerika. Sumber: Wikipedia |
Pada tahun 1929, astronom besar dari Belanda, Anton Pannekoek, menulis
“The legacy has been left to the Observatory destined to extend hospitality as “research associates” to astronomers from Europa and America…”
Dengan demikian Pannekoek berharap bahwa Observatorium Bosscha terus dapat menjadi kolega-kolega astronom Eropa dan Amerika. Dia juga berharap agar Observatorium Bosscha dapat menjadi pusat penelitian ilmiah yang penting:
“…the Bosscha Observatory bids fair to develop into an important centre of scientific research…”
Dari kiri ke kanan: J.G.E.G Voute (Direktur pertama Observatorium Bosscha), K.A.R Bosscha (penyandang dana), Ina Voute (istri J. Voute). Sumber: Bambang Hidayat |
Harapan-harapan pada masa itu mungkin mencerminkan semangat the roaring twenties yang penuh inovasi teknologi. Meskipun Observatorium menghadapi permasalahannya sendiri pada masa Hindia Belanda (Perang Dunia II menghancurkan sebagian fasilitas Observatorium) dan pada masa-masa Orde Lama maupun Baru (Pada tahun 1970an, Pertamina berusaha membangun hotel di dekat Observatorium, dan laju raksasa Pertamina hanya bisa dihentikan oleh Soeharto yang pada waktu itu masih menjadi Presiden), namun derap langkah Observatorium untuk menjadi kolega bagi astronom di belahan dunia lain dan menjadi pusat penelitian astronomi di Indonesia masih berjalan sesuai dengan mimpi-mimpi pendirinya.
Bagaimana keadaan sekarang? Observatorium mengalami kondisi alam dan kebijakan yang relatif stabil semenjak pendiriannya hingga dekade 1980an. Booming ekonomi pada tahun 1970an akibat naiknya harga minyak menghasilkan kelas-kelas menengah baru di Indonesia, termasuk di Bandung. Tentu ini membutuhkan perumahan, listrik, dan juga cahaya. Pembangunan ini kemudian diarahkan ke daerah sekitar Bandung, termasuk daerah Bandung utara dan Lembang. Pada tahun 1999, ketika saya baru memulai tahun pertama kuliah astronomi, Bandung yang sedikit sejuk sedang mempertimbangkan pembangunan jalan layang Pasteur-Surapati. Factory outlet yang menawarkan barang-barang “bermerk” dengan harga terjangkau maupun butik-butik belum menggejala, dan Jalan Dago masih sepi pada akhir minggu. Lima tahun kemudian hal itu berubah sama sekali. Marilah kita ke utara sedikit, dan perjalanan ke Lembang pada tahun 1999 akan sangat berbeda dengan pada tahun 2004, meskipun angkutan umum yang digunakan masih sama. Jalan-jalan lebih terang dan baliho-baliho yang terang benderang memenuhi jalan menuju Lembang.
Foto udara Observatorium Bosscha di tahun 1980an. Sebuah oase ilmu pengetahuan di tengah kehijauan. Sumber: Observatorium Bosscha. |
Kemudian datanglah akhir 1990an: Krisis ekonomi dan kejatuhan rezim. Urbanisasi Bandung yang masih berjalan dan krisis ekonomi membuat hidup Observatorium semakin sulit. Urbanisasi memaksa masyarakat dan pengembang mencari hunian baru di daerah sekitar Bandung, termasuk daerah sekitar Observatorium. Krisis ekonomi membuat orang berpikir lebih pragmatis, sayangnya ini juga termasuk pejabat-pejabat lokal yang lebih memilih membuat kebijakan yang mendatangkan penghasilan bagi kas daerah. Ini termasuk pembangunan hotel, tempat-tempat usaha, dan ruang iklan. Sayangnya lagi pembangunan-pembangunan ini tidak diikuti dengan kebijakan yang mengatur polusi cahaya, karena kita semua tahu bahwa bertambahnya populasi dan aktivitas manusia berarti bertambahnya intensitas cahaya. Bila ini tidak diatur, maka akan semakin tinggi intensitas cahaya yang lepas ke langit. Krisis ekonomi pula yang membuat Observatorium megap-megap mencari dana. Dengan dana operasi yang masih ditanggung antara berbagai donasi internasional dan anggaran kampus, muncullah pula kebijakan privatisasi kampus negeri (saya pikir agak rancu kalau kita sebut hal ini otonomi kampus karena dalam hal ini kampus hanya dibebaskan dari anggaran pemerintah, lebih dari itu tidak) yang memaksa Observatorium harus mencari cara-cara lain untuk menghidupi dirinya.
Petualangan Sherina (Riri Riza, 2000) punya andil dalam mendongkrak popularitas Observatorium Bosscha. Sumber: Miles Films. |
Bagaimana Observatorium menghadapi ini semua? Jawabnya: membuka diri pada pengunjung. Pada suatu hari keluarlah film Petualangan Sherina yang menaikkan nama Observatorium dan hampir semua anak memaksa orang tuanya untuk melihat Observatorium (pengalaman penulis selama menjadi pemandu Malam Umum: sebagian besar anak-anak datang ke situ karena menonton Petualangan Sherina). Mungkin Sherina hanya satu faktor saja, tapi semenjak itu lebih banyak orang berkunjung ke Observatorium. Jumlah penerimaan publik ditambah volumenya menjadi maksimal 450 orang di siang hari selama 5 hari dalam satu minggu (kecuali Minggu dan Senin). Di satu sisi hal ini memungkinkan popularisasi kepada publik yang lebih besar dan juga menambah penghasilan Observatorium, di lain pihak ada bahaya yang tidak dirasakan: bergesernya peran Observatorium dari fasilitas penelitian menjadi observatorium publik.
Semenjak berdirinya, Observatorium selalu mengadakan penerimaan publik secara rutin, tapi hal itu tidak pernah menjadi hal utama. Dalam beberapa tahun terakhir ini hal itu menjadi kegiatan utama, sehingga akhirnya timbul pertanyaan paling tidak dalam benak saya: Observatorium Bosscha mau diarahkan ke mana?
E.C. Krupp, direktur Observatorium Griffith, ahli sejarah dan kolumnis tetap Sky and Telescope. Sumber: Observatorium Griffith. |
Mungkin ada baiknya Observatorium kini memikirkan kembali arah kebijakannya. Observatorium Bosscha mau dijadikan apa? Observatorium publik seperti Observatorium Griffith, Observatorium riset dan pendidikan seperti Observatorium Leiden, atau gabungan keduanya seperti Observatorium Gunma? Ketiga-tiga memiliki gaya manajemen yang berbeda. Observatorium publik seperti Griffith pada prinsipnya dijalankan oleh orang-orang yang kompeten dalam mempopulerkan astronomi kepada masyarakat. Selain menguasai dasar-dasar astronomi, mereka juga menguasai komunikasi publik. Program mereka pun jelas: terstruktur dan terbagi antara program untuk masyarakat awam atau untuk sekolah-sekolah. Dengan kata lain mereka juga memiliki pendekatan berbeda-beda terhadap jenis pengunjung yang dihadapi. Direktur Observatorium Griffith, Edwin Krupp, adalah seorang ahli sejarah dan salah satu kontributor tetap di Majalah Sky & Telescope, salah satu majalah astronomi populer yang cukup terkenal.
Di satu sisi Observatorium riset seperti Leiden maupun Palomar diisi oleh astronom-astronom terbaik di bidangnya yang setiap hari melakukan aktivitas penelitian yang terencana. Observatorium bersejarah seperti Palomar, yang hingga saat ini masih digunakan untuk penelitian, juga memiliki program kunjungan publik di siang hari namun dengan peraturan yang ketat:
The Palomar Observatory is an astronomical research facility. As such, the Observatory grounds are closed to visitors after 4:30 p.m. Night-time visits cannot be accommodated without interfering with the scientific studies.
Dengan pengumuman ini, Observatorium Palomar jelas-jelas menyatakan bahwa riset adalah yang utama dan kegiatan riset tidak akan dihentikan demi kunjungan malam. Bandingkan dengan Observatorium Bosscha yang beberapa tahun lalu menghentikan pengamatan malam hari karena kedatangan seorang pejabat yang ingin melihat fasilitas peneropongan itu.
Pameran di Observatorium Gunma, Jepang. Komunikasi publik dimanajemen dengan baik di sini. Sumber: Observatorium Astrofisika Gunma. |
Gabungan observatorium publik dengan observatorium riset seperti Gunma juga menghasilkan desain yang berbeda: Ada pemisahan antara teleskop yang diperuntukkan bagi penerimaan kunjungan dan pengamatan publik, dengan teleskop yang diperuntukkan bagi penelitian. Keduanya terpisah jarak yang cukup jauh (dan juga ketinggian yang berbeda) sehingga kegiatan yang satu tidak mengganggu yang lain. Staf yang bertugas dalam penelitian maupun komunikasi publik juga adalah orang-orang yang berbeda (dan juga kompeten dalam hal tersebut!) sehingga tidak ada tanggung jawab yang tumpang tindih.
Arah kebijakan Observatorium kini yang tidak terlihat jelas arahnya mau ke mana di antara tiga pilihan tersebut. Melihat sejarah pendiriannya, kita bisa melihat bahwa pembangunan Observatorium Bosscha dimaksudkan sebagai fasilitas penellitian garda depan pada zamannya. Idealisme yang luhur ini sudah sepantasnya kita pertahankan, karena sains juga adalah bagian dari kebudayaan dan olah pikir intelektual. Namun bila kondisi berubah drastis, mungkin fungsi Observatorium dapat berubah drastis tapi apapun pilihannya dari ketiga fungsi di atas, yang tidak boleh diabaikan adalah kebijakan-kebijakan yang akan disusun harus konsisten dengan arah yang hendak dituju (walaupun demikian, saya tidak berani membayangkan Observatorium Bosscha menjadi murni observatorium publik karena masih ada peran Observatorium sebagai fasilitas Departemen Astronomi yang bertugas mendidik seseorang menjadi ilmuwan). Akhir-akhir ini terancamnya Observatorium Bosscha oleh lingkungan sekitar semakin terdengar, termasuk ke Negeri Belanda. Pernyataan prihatin berdatangan, dan dana bantuan mengalir. Seluruh mata publik kini memandang ke Observatorium Bosscha, bertanya-tanya, “Mau jadi apa Observatorium Bosscha?”
Siapkah kita menjawab pertanyaan itu?
Saya pribadi lebih memilih Observatorium tetap menjalankan peran gandanya sebagai observatorium riset sekaligus publik, namun mampukah kita menjalankan kedua peran itu tanpa mengganggu satu sama lain? Namun bila kita benar-benar ingin jadi Observatorium riset sekaligus publik, mampukah kita membangun fasilitas dan sumber daya untuk menjalankan peran ganda tersebut?



Leave a reply to evan Cancel reply