Michel MayorHmm…Ratna si astronom tobat pasti tahu siapa Michel Mayor, hehehehe…

Michel adalah profesor astronomi dari Universitas Jenewa, dan juga astronom Observatorium Jenewa. Michel dulu adalah satu penggagas spektrometer presisi tinggi bernama CORAVEL, yang selama dua dekade telah mengukur begitu banyak kecepatan radial bintang-bintang. Kecepatan radial, btw, adalah kecepatan sebuah bintang sepanjang garis pandang kita menuju bintang. Menjauhi atau mendekati kita. Cara mengukurnya adalah mengukur pergeseran sebuah spektrum. Semenjak dulu Michel sudah bekerja dalam berbagai bidang astronomi. Tahun 1974, Michel menulis paper tentang kinematika lokal matahari (paper ini jadi referensi gw buat skripsi). Akhir-akhir ini, semenjak menemukan eksoplanet pertama yang mengorbit bintang bernama 51 Pegasi (ditemukan bersama Didier Queloz pada tahun 1995. Planet itu kemudian diberi nama 51 Pegasi b dan punya nama informal Bellerophon), Michel banyak bekerja dalam usaha pencarian eksoplanet. Baru-baru ini rekor Michel bertambah lagi: Doski adalah salah satu dari 11 astronom yang menemukan sebuah planet dalam habitable zone sebuah bintang. Lihat langitselatan.com untuk berita lebih lanjut, heheehhe…

Gw belum pernah ketemu orangnya sih (yaaa…pasti Ratna kecewa deh, heheehhe…), tapi gw sempat hampir-hampir mau meng-e-mail Michel Mayor untuk minta data. Pekerjaan riset gw mengharuskan gw untuk mencari data kecepatan radial untuk sejumlah besar bintang. Dan karena bintang-bintang yang ada dalam daftar gw adalah bintang-bintang redup yang data kecepatan radialnya tidak ada di katalog manapun karena jarang diamati, Yuri (salah satu supervisor gw) punya ide: “Kamu coba hubungi Michel Mayor, dia punya data kecepatan radial dalam jumlah besar.” Waktu itu Anthony (supervisor gw yang lain) tidak ada jadi dia tidak bisa komentar. Minggu berikutnya, Anthony nongol dan dia bilang, “We’re certainly not going to e-mail Michel Mayor and ask him to release his data to us. This guy will not give us the data, you know he likes to keep his data for a long time until he’s sure that there are no planet on any star he observed.” Ooooh begitu. “Ya tapi coba saja,” kata Yuri. “Ah gak akan dijawab itu sampai bertahun-tahun kemudian. Yakin gue tuh,” kata Anthony. Ya sudah.

Michel Mayor dan Didier QuelozSebagai pengamat, Michel sudah dua dekade-an menggunakan CORAVEL dan koleksi data kecepatan radial-nya begitu besar jadi bukan gak mungkin dia punya data kecepatan radial untuk SEMUA bintang Hipparcos yang jumlah seratus ribuan itu. Pada awal penyusunan katalog Hipparcos, Michel adalah salah satu kontributor dalam memberikan data kecepatan radial. Rencana awalnya adalah, pengamatan Hipparcos akan dikomplemen oleh pengamatan kecepatan radial dari teleskop di Bumi, dengan Michel sebagai salah satu kontributornya. Namun entah kenapa rencana ini gagal, mungkin karena Michel keburu menemukan eksoplanet. Tidak pernah ada yang tau pasti berapa jumlah data kecepatan radial yang dia punya. Yang pasti biasanya begini: Michel hanya akan melepas data kecepatan radial setelah dia yakin bahwa pada bintang tersebut tidak ada planet. Dia tidak mau keduluan orang lain. Namun kadang-kadang biasanya begini: Michel kadang-kadang mau diajak kolaborasi. Kita mau meneliti apa, kenapa butuh data kecepatan radial, beri daftar bintangya, nanti kalau Michel tertarik dia akan kasih. Biasanya dengan demikian namanya akan dimasukkan dalam paper yang nantinya ditulis, biasanya dia sebagai penulis ketiga atau keempat. Ini sudah terjadi beberapa kali.

Didier QuelozBeberapa hari setelah pertemuan itu, gw ketemu Rudolf Le Poole dan gw tanya apa ada kemungkinan gw bisa dapat data itu dari Michel Mayor kalo gw jelaskan proyek gw. Rudolf sudah tua dan seorang pengamat handal (tahun 2006 adalah tahun ke-40 Rudolf bekerja di Observatorium Leiden), dan dia kenal baik juga dengan Michel Mayor. Dia jawab, “Ya emang data yang dimiliki Michel begitu enormous. Nobody knows for sure how big it is. Coba kamu kontak Didier Queloz saja, mungkin dia bisa menjadi mediator antara kamu dan Michel. Cara lain begini: Coba kamu tawarkan kolaborasi saja. Jelaskan apa yang kamu kerjakan, kamu mau apa dengan data dia, dan berikan daftar bintang-bintang yang kamu mau teliti. Bilang nanti nama dia akan dimasukkan dalam paper yang akan ditulis, mungkin dia tertarik. Kalau kamu tulis e-mail ujug-ujug minta data, pasti akan ditolak.” Oooh…begitu. Setelah gw laporan pada Yuri, dia bilang, “Ya sudah kamu coba bikin draft e-mail untuk Michel Mayor, nanti kami baca.” Eh minggu depannya Anthony bilang, “Gak usah lah. Gak mungkin itu. Kamu cari saja di database SIMBAD.” Oke deeeh…akhirnya gak jadi deh gw minta data dari Michel Mayor (yaaa…kecewa).

Pihak HST membolehkan tim peneliti yang menggunakan HST untuk menyimpan data yang mereka peroleh selama maksimal satu tahun Rudolf juga bilang begini: “Don’t get wrong. Michel is not a bad person. Dia cuma mau memastikan bahwa apa yang dia cari tidak ada di situ.” Hmmm…ini salah satu mentalitas ilmuwan, yang sering jadi perdebatan: siapakah pemilik data astronomi? Komunitas sains (atau mungkin komunitas pembayar pajak) atau si ilmuwan pengambil data? Kebijakan tentang ini berbeda-beda dari Observatorium ke Observatorium lain. Hubble Space Telescope (HST), misalnya, membolehkan astronom pengambil data menahan data yang diambilnya dengan HST selama satu tahun, sebelum data itu kemudian dilepas kepada publik dan bisa diakses siapapun. Ini untuk memberikan waktu kepada astronom yang mengambil data untuk menganalisis data itu secara maksimal tanpa khawatir ada orang yang mendahuluinya. Di beberapa Observatorium Eropa, kebijakannya lain lagi. Data yang diambil langsung dilepas kepada publik, siap atau tidak siap si peneliti harus cepat-cepat menganalisisnya. Michel, sebagai si astronom pengambil data, mungkin merasa berhak atas data yang dia ambil. Kita bisa saja menginterpretasikan bahwa dia khawatir akan ada orang yang dapat menemukan eksoplanet dari data yang dia ambil, dan kerja dia akan sia-sia. Inilah dia. Sains juga tidak bebas nilai, dia juga dihantui masalah-masalah dalam dunia kerja pada umumnya tentang pengakuan, publikasi, dan reputasi. Seorang ilmuwan kadang-kadang tidak mesti bekerja murni demi ilmu pengetahuan, demi kemajuan sains, tapi juga ada komponen-komponen “duniawi” seperti status sosial, penghargaan, dan…popularitas. Saya jadi ingat dulu bahwa dosen-dosen ITB juga sering berebut mahasiswa bimbingan demi kenaikan pangkat pegawai negeri.

Michel sebenarnya orangnya baik. Kalau kita kirim e-mail untuk tanya masalah-masalah eksoplanet atau apa, dia cukup terbuka dan menjawab (kecuali kalau sedang sibuk berat, mungkin jawabnya lama). Ini kata Vivie loh, hehehehe… Tapi kalau kita minta data, wah mungkin bisa lama urusannya. Kalau Anthony begitu pesimistis tentang Michel, ya gak tau deh mungkin dia dulu ada masalah kali, hehehehe…

Rudolf finally has all the fun by observing the stars himself with the INT (Isaac Newton Telescope) at La PalmaRudolf kemudian punya ide lain: “Kita amati sendiri saja bintang-bintang itu.” Bulan depan Rudolf dapat observing time cukup banyak di La Palma, Pulau Kanari, dan dia tertarik untuk mengamati objek-objek itu, sekalian buat ngajarin anak-anak yang lagi kuliah pengamatan, katanya (mungkin sebangsa kuliah Lab-As gitu kali ya. Asik banget, kuliah Laboratorium Astronomi dibawa ke La Palma, hehehehe). Beberapa hari lalu gw sudah berikan observing list-nya. Hmmm….mudah-mudahan dapat deh itu hypervelocity star sebiji aja biar gw bisa ngetop dan dapat PhD, hehehehe…. (sekali2 mikir pragmatis lah :D)

Written by Tri L. Astraatmadja

After living for 10 years in Europe as a Master's student, PhD researcher, and a postdoc, in 2016 Tri L. Astraatmadja moved on to the United States for a second postdoctoral appointment at the Department of Terrestrial Magnetism, Carnegie Institution for Science, Washington DC. He is now in his third postdoc at the Space Telescope Science Institute in Baltimore, MD.

7 comments

  1. Yaaah, nggak jadi kirim e-mail Michel Mayor ya? Tadinya mo nitip salam.. hehehe.

    Ngiri deeh sama anak “LabAs” Leiden. Ngamatnya di Spanyol euy!

    Eniwei, mudah2an dapet data yg lo mau.

  2. Heuheuheu.. akhirnya bisa ketemu langsung sama Didier Queloz. Foto bareng dan minta tanda tangan. Lain kali lo coba deh Tri foto bareng sama orang beken di dunia astronomi sekalian minta tanda tangan gitu. Norak sih tapi noraknya rame-rame sih jadinya cuek ajah ๐Ÿ˜€

    Kata si Tijl (alaaah, mpe bosen kali ya lo denger nama ini) juga ngamat di La Palma waktu S1. Gilee… asik bener… trus TA-nya mo disubmit ke salah satu jurnal (A&A klo nggak salah). Bener ya yg lo bilang: publikasi itu penting di Leiden. Jadi keder nih.

    Btw, ada beasiswa dr pemerintah Swiss untuk ambil postgraduate di sana. Salah satunya di Univ. Geneva (Obs. Geneva bernaung di bawah univ. ini)… heuheuheu… jadi pengen, pengen ketemu Michel Mayor dan ketemu (lagi) sama Didier maksudnya ๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: