Cyril Tasse

Orangnya sekarang lebih gondrong dan jenggotan daripada di foto ini

Hari Rabu (11 April), di tengah-tengah kesibukan nyiapin tentamen (ujian) kosmologi, kebetulan ganti suasana gue makan siang di Kantin Gorlaeus. Eh kebetulan ada Cyril Tasse, temen gua yang sedang ngambil PhD. Cyril orang Brittany (atau Bretagne), dan pertama kali kami bertemu, dia sedang membicarakan kemungkinan Brittany memisahkan diri dari Perancis, hehehehe… Kami cukup akrab karena ternyata Cyril masih suka motret pakai film B&W dan juga langganan menggunakan kamar gelap di Gedung Lipsius. Wah klop deh, kalau ketemu pasti ngobrol fotografi, gak ngomongin astronomi. Terakhir kali ketemu, Cyril ngajakin ke Paris naik mobilnya dia. Sayang seribu sayang waktu itu gue udah pegang tiket bis ke…Paris. (Tentang perjalanan ke Paris, ada ceritanya sendiri :p)

Liga Komunis Revolusioner mendominasi panggung politik pada saat revolusi mahasiswa 1968 di Perancis.

Cyril memiliki stereotip orang Perancis: kiri, melek politik, cultured, dan filosofis. Gw cerita kalau gw butuh waktu 6.5 tahun untuk menyelesaikan sarjana satu, gw jelaskan bahwa antara Oktober 2000 hingga Januari 2002 gw skip class selama 3 semester untuk menjadi pimpinan nasional di sebuah organisasi mahasiswa nasional. “Ya seperti LCR lah,” kata gue, “tapi kami ini sayap mahasiswa-nya dan tendensi kami Marxis-Leninis dan bukan Trotskyis, dulu ada garis yang jelas antara keduanya,” wah mendengar ini Cyril langsung semangat. “Apa bedanya ya? Dari dulu gw selalu bingung” Wah Cyril rupanya familiar dengan wacana kiri. Gw katakan saja bahwa batasan antara keduanya tidak begitu jelas, bahkan beberapa tendensi Trotskyis saja meng-claim bahwa dirinya lah ideologi Marxis-Leninis yang sah. Keduanya percaya pada kekuatan partai pelopor untuk memimpin kesadaran massa namun mereka berbeda taktik setelah kekuasaan direbut oleh kelas pekerja, di mana dalam Trotskyisme ada yang disebut teori revolusi permanen.

Karl Marx

Marx muda tukang mabuk dan semasa kuliah menjadi ketua perkumpulan bir.

Di Vienna, Cafe Central menjadi tongkrongan reguler Leon Trotsky.
Ketua Mao - 1949

Mengenai turba alias “turun ke bawah” yang sangat populer dalam program PKI di tahun 1965, Ketua Mao berkata, “Seseorang harus turun dari kuda untuk dapat memetik bunga.”

Karena omongan gw dah mulai ngawur (teori-teori M-L gue dah basi banget, hehehehe…), cepat-cepat gw alihkan pembicaraan pada batasan antara Marxisme-Leninisme (M-L) dengan Maoisme yang gw katakan lebih jelas daripada batasan antara M-L dengan Trotskyisme (lagipula perbedaan antara M-L dengan Maoisme gue masih inget dikit-dikit). Gw katakan bahwa M-L menyandarkan kekuatannya pada kelas proletariat yang didefinisikan sebagai kelas buruh yang berada pada anak tangga terbawah dalam kelas-kelas sosial (in fact, dalam Manikom bahkan Marx dan Engels hanya menyebut dua kelas sosial: kapitalis dan proletariat). Teori-teori M-L tentu saja dikembangkan di Eropa dalam kondisi masyarakat kapitalis yang sudah mapan (Di Rusia kondisinya berbeda, kapitalisme dan kelas buruh sudah muncul tetapi belum kuat. Lenin yang percaya pada kekuatan kelas pekerja lalu menyerukan agar kaum buruh diperkuat untuk bisa memimpin revolusi, terutama buruh-buruh pabrik baja yang pada saat itu kesadaran politiknya paling maju), namun di Cina, tulang punggung perekonomian bersandar pada kelas petani sehingga Mao-pun mengembangkan teori Marxis yang bersandar pada kaum tani. Cyril sendiri mengaku bahwa dia menganggap dirinya seorang anarkis dan tidak menolak ketika gw katakan bahwa anarkisme kelihatannya lebih mirip sebuah cara hidup ketimbang sebuah gerakan politik yang konvensional. Cara hidup, karena seorang anarkis/libertarian tidak percaya dengan absolutisme. Mereka mendefinisikan sendiri apa yang mereka inginkan, tanpa terpaku pada aturan-aturan yang ada. Bayangkan, 2 dari 3 orang Perancis yang gue kenal baik adalah/pernah menjadi anarkis. Tentu ini adalah sampel yang sedikit sekali, tetapi apakah ini sebuah trend?

Cyril punya hobi aneh yaitu motret dengan film B&W dan bergelap-gelap di kamar gelap untuk membuat cetakan. Hmmm…rasanya kenal nih dengan orang yang juga punya hobi aneh yang sama, hahahaha…Walaupun gw belum pernah satu kalipun ngeliat foto-foto doski, tapi gw rasa pasti gak jelek-jelek amat kalau dikerjakan di kamar gelap analog. Dia kagum sekali dengan foto-foto Henri Cartier-Bresson. “Shit, that guy is very good,” katanya suatu hari.

Be Young and Shut Up!

Be young and shut up!

Pembicaraan gue alihkan dengan bertanya gimana caranya mendaftar PhD di Perancis. “Wah kenapa tidak di Observatoire de Paris atau di Institute D’Astrophysique saja?” Tentu saja gue dah tahu dong kedua lembaga top di Perancis itu, hanya saja mekanisme masuknya yang gw belum paham. Setelah dia jelaskan beberapa hal, tau-tau Cyril membandingkan suasana di sana dengan di Leiden. “Di sini sangat membosankan, orang-orang hanya memikirkan publikasi. Loe tau gak, kalau di Meudon orang-orang dengan sangat informal akan barbeque-an sambil mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan yang sangat fundamental,” langsung gw samber, “Philosophizing?”, “Exactly!” gitu katanya. Yah wajar lah karena di Meudon banyak sisa-sisa generasi hippies tahun 60-70an, hehehe…. gitu katanya. Hmmm…mungkinkah mereka dulunya adalah mahasiswa-mahasiswa yang ikut ambil bagian dalam pemberontakan mahasiswa tahun 1968 yang kemudian berujung pada pemecahan Université de Paris menjadi 13 universitas yang semi-independen?

Cyril tidak suka dengan suasana kerja di sini, menurut dia suasana kerjanya lebih mirip Microsoft, lebih mirip perusahaan ketimbang sebuah institut penelitian. Orang-orang lebih tertarik pada publikasi ketimbang menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental. Mendengar omongan ini, gw jadi teringat dulu ucapan Radja ketika gue pertama kali bertemu Kassia dan Pierre di Amsterdam. Orang-orang Perancis selalu menarik segala-galanya kepada hal-hal yang fundamental dulu, filsafatnya ditanyakan dulu baru turunan-turunannya didasarkan pada hal-hal fundamental tersebut. Radja kadang-kadang emang suka ngibul dan bombastis sih, hehehehe… tapi kali ini mungkin omongannya ada benarnya. Semua orang Perancis yang gue kenal baik memang begitu. Hmmm…cuma 3 orang sih jadi mungkin sampelnya tidak representatif. Gue pribadi sebenarnya menganggap bahwa percaya pada stereotip itu terlalu berbahaya. Bila stereotip dari orang-orang yang gue kenal itu bisa benar, kemungkinan besar itu adalah karena efek seleksi, hehehehehe…

Mengenai ucapan cyril tentang bagaimana Observatorium Leiden terasa dimanajemen seperti sebuah perusahaan ketimbang sebuah institut sains, mungkin ada juga benarnya bila melihat bahwa semenjak abad ke-17 Negeri Belanda memang sudah piawai dalam berdagang, sehingga kalau segalanya dipandang dalam in term of business, ya kita perlu mafhum lah. Tapi apakah di Leiden orang-orang lebih tertarik pada publikasi? Mungkin juga karena publikasi dan sitasi kini menjadi salah satu parameter dalam menilai kualitas sebuah institut sains. Webometric, misalnya, me-rangking universitas-universitas di seluruh dunia menurut jumlah publikasi penelitian yang diterbitkan universitas tersebut di internet.

Banyak yang mengkritik metode seperti ini karena jumlah publikasi saja, tentu saja, tidak memberikan gambaran apa-apa terhadap kualitas publikasi tersebut. Mendengar ucapan Cyril ini tentang orang-orang Leiden yang hanya tertarik pada publikasi, gue jadi teringat pada pertemuan pertama gue dengan Rudolf Le Poole yang waktu itu menyambut gue di hari pertama. “Skripsi S1 kamu tentang apa sih?” Tanya dia di kantornya, “Oooh…saya menghitung ulang kinematika lokal matahari dengan menggunakan data Hipparcos.” Dia nyengir sambil menunjuk tumpukan Katalog Hipparcos di belakang pundaknya. “Kenapa tidak dipublikasi saja di Astronomy & Astrophysics, misalnya?” “Wah itu kan hanya hitung ulang, tidak ada hasil yang baru dari perhitungan saya.” “Kalau begitu ayo kita kerjakan sesuatu yang bisa dipublikasikan!” Sambar Rudolf dengan penuh semangat.

Mungkinkah ucapan Rudolf adalah cerminan dari etos kerja di Observatorium Leiden? Kerjakan sesuatu yang bisa dipublikasikan alih-alih sesuatu yang menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental. Bisakah kita pertanyakan lagi: Apakah mempublikasikan sesuatu pekerjaan dalam jurnal ilmiah berarti turut andil dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental?

Gue sendiri juga sempat terjebak dalam etos kerja seperti ini. Waktu gue serahkan hasil akhir penelitian kecil gue kepada Anthony dan Yuri, dua orang supervisor gw, dengan bodoh gue tanyakan, “Is this work worth enough to be published?” Yuri jawab, “Wah itu tergantung. Kalau dari daftar yang kamu berikan ini kita benar-benar menemukan sesuatu, pasti bisa dipublikasikan.” Kemudian Anthony menyambung, “Tapi jangan terlalu berharap kita akan menemukan sesuatu, ini hanya demonstrasi teknik toh. Tapi penelitian fase berikutnya dengan menggunakan simulasi yang lebih besar pasti bisa dipublikasikan. Orang lain saja yang mengerjakannya. Tapi jangan khawatir, nama kamu pasti akan dimasukkan karena kamu sudah punya andil besar dalam pekerjaan ini.”

Pertanyaan bodoh sebenarnya. Publikasi seharusnya menjadi tidak penting kalau kita sudah punya andil dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang alam semesta.

P.S. Post ini seharusnya sudah bisa muncul hari Rabu (11/04) lalu, tapi karena post-nya tiba-tiba hilang jadi terpaksa deh harus ditulis ulang! Huh, sebel!

Written by Tri L. Astraatmadja

After living for 10 years in Europe as a Master's student, PhD researcher, and a postdoc, in 2016 Tri L. Astraatmadja moved on to the United States for a second postdoctoral appointment at the Department of Terrestrial Magnetism, Carnegie Institution for Science, Washington DC. He is now in his third postdoc at the Space Telescope Science Institute in Baltimore, MD.

14 comments

  1. edun tri.. gue suka tulisan lo yg satu ini… dr M-L nyambung ke stereotip mempertanyakan fundamental question dan tipikal org2 yg mengutamakan publikasi.

    btw soal kebiasaan mempertanyakan fundamental question hmm kok mirip ma pak radiman yah? dia selalu masuk k filosofi dan hal2 mendasar dulu..

  2. Lho, Vi, Pak Radiman kan lulusan Perancis. Jadi, mungkin saja terbawa budaya di tempat studinya hehehe. Atau bisa jadi emang udah karakter beliau yang begitu. Toh “U know who” yang sama-sama jebolan Perancis demennya nurusin rumus sampe-sampe anak SMA yang mau ikut olimpiade astronomi dikasih turunan-turunan. Anj**t, gue aja kudu menggali dalam-dalam memori gue tentang materi turunan :p

    Kayaknya budaya studi di masing-masing institusi sedikit banyak berpengaruh pada tipe lulusannya ya? 😕

  3. Jadi pengen ke Prancis 😛

    Eh Tri, aku liat2 di berita kalau mahasiswa Prancis ambil peranan dalam politik, maksudnya mereka ikut memantau proses pemilihan presiden. Dulu mahasiswa Prancis juga kan ikutan dalam demo soal UU pekerja. Nah, di negara2 besar lain yang kayak gitu kayaknya jarang (setidaknya nggak dipublish media). Apa mungkin cuma mahasiswa Prancis yang masih kritis sama pemerintahnya?

  4. “U know who” yg jebolan Perancis teh saha? Yang petinggi Bosscha tea? Hehehehehehe… eh jangan salah lo, “U know who yang petinggi Bossca” tea itu gak hanya jebolan Perancis tapi juga waktu lagi di Perancis pernah ikutan gerakan kuminis (menurut info dari anak AS ’92 yang jadi mantunya babeh 😀 hehehehe siapa lagi coba). Nah lo! Cocok deh, kuliah di perancis dan komunis lagieh, hehehehe… gw dulu pernah ngobrol tuh sama “U know who” tentang kuminis2an, disuruh baca Adam Smith ceunah biar bisa ngebandingin.

    Gak tau deh tuh doski apa masih kuminis sekarang, hahahaha…

  5. Wah hubungan antara mahasiswa Perancis dengan sistem politik Perancis memang erat. Kayaknya itu bermula dari Pemberontakan May 1968 itu yang melumpuhkan Perancis. Mahasiswa berantem sama polisi, 2/3 buruh Perancis mogok, de Gaulle kabur. Secara politik itu ya pemberontakan gagal, tapi untuk generasi selanjutnya jelas terbentuk kesadaran kolektif yang kemudian membentuk mentalitas mahasiswa sono, getoh… Kayak taun 98-an gitu deh di Indonesia, jadi aktivitas mahasiswa tuh gaul, hehehehe…sayangnya di Indonesia tradisi gerakan mahasiswanya gak bertahan lama. Kalau di Perancis, lumayan lah mahasiswa gak anti berpolitik dan partai politik, makanya bisa solider sama gerakan buruh.

    Gak tau deh sekarang ya. Jangan-jangan fenomena orang Perancis yang cultured, melek politik, dan kiri, itu hanya di daerah urban seperti di Paris. Kok mau2nya orang Perancis memilih Nicolas Sarkozy si diktator fasis coba.

  6. elooow…comerad!!!kl leh kenal.menarik apa yang kawan inspirasikan..kalo leh,kapan2 maen lah ke rumah bambu merah..kl dan di indonesia..key ditunggu kawan2 tuk diskusi M_L…key he…

  7. udah trie ke prancis aja. :p
    pusat esa tuh disana.

    sarko imigran gila gitu gw kok jadi teringat hitler yak.
    orang austria yang mimpin jerman

  8. Tui, gambar Marx-nya lucu. Gw udah lama nyari his comic-style pic yg bagus.. (siapa tau bisa gw taruh di Thesis. hihihi.). Btw, it seems that there is never enough time to read enough of Marx. Gw jadi setressss sendiri.

    Eh, gw copy ya, gambarnya — loe dapet darimana?

  9. Uwaaahhh…lupa Taannn… kayaknya dari sini deh…hehehehe… lupa boookkk…hehehehe…

    Jangan baca Das Kapital, Tan…berasa goblok soalnya gk ngerti, hehehe… baca Brumaire 18 tuh seru. Manikom juga asik :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: