Inilah meja kerja saya pada puncak kesibukanSewaktu saya diterima sekolah S2 di Observatorium Leiden, saya bertanya kepada penasihat akademik mahasiswa S2—waktu itu Rudolf Poole—apakah ada yang perlu saya siapkan sebelum mulai belajar. Rudolf menjawab supaya melihat-lihat daftar mata kuliah yang akan ditawarkan setahun ke depan namun jangan membuat rencana yang definitif dahulu. Jawaban yang santai ini agak mengagetkan saya karena biasanya mahasiswa sudah harus punya rencana studi, mengisi KRS (Kartu Rencana Studi), minta tanda tangan dosen wali, bayar uang sekolah, KRS disahkan, lalu ikut kuliah. Nanti ada lagi proses pembatalan dan penggantian mata kuliah kalau memang tidak cocok. Ketika membacai daftar mata kuliah dan sistem pendidikan sana, saya tidak menemui ada istilah semacam “pendaftaran mata kuliah” atau “kartu rencana studi.” Yang saya temui adalah pernyataan “kurikulum Observatorium Leiden diatur agar cocok dengan kebutuhan individu mahasiswa,” dan “mahasiswa S2 didorong untuk menghadiri seluruh kuliah yang ditawarkan dan kemudian menentukan sendiri ujian mata kuliah mana yang mau diikuti.”

Saya agak bingung ketika membaca dua pernyataan ini. Selama hampir tujuh tahun kuliah S1 di ITB, semuanya harus diatur dan ditentukan di awal sekali, sebelum perkuliahan dimulai. Ucapan Rudolf untuk tidak “membuat rencana definitif terdahulu” dan pernyataan-pernyataan di situs Observatorium membingungkan saya. Kebingungan saya sama seperti kebingungan seorang Michael Moore dalam film Sicko, ketika ia pergi ke Inggris dan menjumpai sistem pengobatan gratis untuk seluruh lapisan masyarakat. Kok bisa?

Semuanya menjadi jelas ketika saya menemui Rudolf di kantornya untuk membicarakan soal perkuliahan. Untuk bisa dikatakan lulus program MSc di Observatorium Leiden, saya harus menyelesaikan total 120 ECTS (Sistem kredit Eropa. 1 ECTS ekivalen dengan kira-kira 30 jam belajar di kelas, mengerjakan tugas-tugas, dan belajar mandiri. Selanjutnya ECTS akan saya sebut SKS supaya gampang, walapun tidak ekivalen). Dari 120 SKS ini, 60 SKS dibebankan kepada kerja penelitian di bawah pengawasan peneliti post-doc atau dosen. Penelitian di bagi dua lagi: Penelitian kecil (minor research project) sebesar 24 SKS dan penelitian besar (major research project) sebesar 36 SKS. Sisanya yang 60 SKS adalah untuk kuliah. Kuliah pun dibagi dua: 36 SKS harus berupa mata kuliah yang ditawarkan oleh Observatorium Leiden, dan 24 SKS harus berupa mata kuliah yang ditawarkan Fakultas MIPA (namun pada umumnya mahasiswa S2 mengambil kuliah yang ditawarkan Jurusan Fisika, ada juga beberapa yang mengambil kuliah Jurusan Matematika). Hanya ada satu mata kuliah wajib: Struktur dan Evolusi Bintang, sebesar 6 SKS.

Aturan ini menurut hemat saya sangat minimal dan bebas. Kadangkala bisa pula kita bernegosiasi supaya mata kuliah tertentu digolongkan ke dalam mata kuliah Fisika atau Astronomi. Ada teman saya yang meminta supaya mata kuliah Kosmologi yang diambilnya dianggap sebagai mata kuliah Fisika supaya keharusan “24 SKS mata kuliah MIPA” cepat terpenuhi, padahal itu adalah mata kuliah yang diberikan oleh dosen Astronomi. Di jaman multidisipliner ini, di mana batasan antara ilmu semakin kabur, argumen seperti ini bisa diterima.

Saya lalu bertanya lagi, trus gimana pendaftaran kuliahnya? BAA-nya (Badan Administrasi Akademik) ada di sebelah mana? Harus ngisi KRS gak? Rudolf menjawab, “loh gak ada itu daftar-daftaran. Kamu datang aja langsung ke kelas sesuai jadwal, duduk, dengarkan, tanya-tanya, lalu pulang.” “Ooooh… begitu…” jawab saya keheranan, belum terbiasa dengan sistem yang begitu bebas ini. “Nanti di akhir perkuliahan, kamu tentukan sendiri mau ikut ujian atau tidak. Kalau kamu lulus, dosen akan mengisi kartu nilai. Kartu nilai itu kamu kasih ke Bagian Akademik, barulah nanti kamu terdaftar sudah lulus mata kuliah X dengan nilai Y,” lanjut Rudolf. Saya lalu manggut-manggut, mengerti.

Rupanya inilah makna “cocok dengan kebutuhan individu mahasiswa,” tentu saja cocok dengan kebutuhan kita karena kitalah yang menentukan sendiri kuliah yang ingin kita hadiri. Kita sendiri yang menentukan kuliah mana yang ingin dinilai, mirip-mirip lah dengan prinsip ekonomi Laissez-Faire. Dalam banyak kasus, bahkan kita sendiri yang menentukan kapan mau ujian. Ujian seperti ini umumnya adalah ujian lisan. Ini asing sekali bagi saya karena saya hanya pernah menjalani ujian tertulis. Rudolf menjawab, “Mengenai ujian lisan saya tidak bisa kasih kamu petunjuk karena setiap dosen punya caranya masing-masing. Kalau saya sih akan memberikan pertanyaan umum lalu saya lanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang lebih detail untuk memastikan apakah kamu tahu apa yang kamu omongkan.” Di kemudian hari, saya mengalami bahwa ujian lisan memang harus kita sendiri yang menghubungi dosen yang bersangkutan lalu menetapkan janji bersama-sama. Hampir tidak ada batas waktu kapan masih boleh meminta ujian, saya pernah meminta ujian lisan tiga semester setelah kuliah berakhir. Untuk ujian tertulis, kadang-kadang di akhir perkuliahan ada diskusi untuk menentukan hari yang cocok untuk semua. Kalau bisa waktu ujian jangan terlalu dekat dengan ujian-ujian lain.

Sistem ini sangat mangkus karena mengurangi birokrasi, dan juga memberikan kebebasan kepada mahasiswa untuk menjelajahi minat keilmuannya. Dengan menghadiri setiap perkuliahan yang ditawarkan, selain mendapat ilmu baru mahasiswa juga bisa menilai sendiri apakah kuliah ini cocok untuknya.

Inilah meja kerja saya pada puncak kesibukanBagaimana dengan penelitian? Mahasiswa juga memilih sendiri mau mengerjakan penelitian macam apa. Kami didorong untuk berbicara dengan para peneliti, apa yang sedang mereka kerjakan. Kalau perlu datangi ruang kantor mereka dan ajak bicara. Lihat satu-satu situs pribadi mereka kalau ada, dan lihat apa yang mereka kerjakan. Saya sendiri juga melakukan ini dan menghubungi Anthony lewat e-mail, menanyakan apakah saya bisa mengerjakan sesuatu proyek yang berkaitan dengan Satelit Gaia. Karena harus melakukan kerja penelitian sebagai bagian dari thesis inilah, makanya kami diberi meja kerja dan komputer. Mejanya tidak sebesar meja mahasiswa PhD atau dosen tetap, maklum cuma mahasiswa S2, hehehehe… Tapi lumayan untuk bekerja.

Saya senang dan kerasan dengan sistem seperti ini. Pendapat individu sangat penting dalam hal ini dan bahkan sangat dihargai. Diskusi dengan orang lain dan mencari informasi secara mandiri menjadi sesuatu yang hakiki. Keputusan diambil berdasarkan informasi yang cukup (informed decision) dan bukan karena diharuskan oleh sistem yang terlalu mengekang. Tidak perlu ikut-ikutan, tidak perlu didikte. Saya pikir ini membantu proses pembentukan karakter seseorang.

Written by Tri L. Astraatmadja

After living for 10 years in Europe as a Master's student, PhD researcher, and a postdoc, in 2016 Tri L. Astraatmadja moved on to the United States for a second postdoctoral appointment at the Department of Terrestrial Magnetism, Carnegie Institution for Science, Washington DC. He is now in his third postdoc at the Space Telescope Science Institute in Baltimore, MD.

2 comments

  1. Di ITB masih lebih mendingan sebenernya Tri, ketimbang kampus2 lain terutama di daerah2. Mata kuliah pilihan di ITB kan bebas mau ambil di jurusan apa, kecuali 12 SKS yg harus sesuai jurusan kita sendiri. Setauku hampir gak ada kampus lain yg kayak gitu.

    Tapi, yah, baca ceritamu ini dan juga cerita2 si Ainil, kayaknya emang enak banget ya sistem pendidikan di Eropa sana.

    1. Okay. Tapi ini pendidikan S2 loh ya, kalau S1 di mari gw kurang tahu. Dan ini spesifik Observatorium Leiden, gk tau deh jurusan lain.

      Tapi yang pasti secara umum memang nampaknya ada kemandirian tiap2 jurusan untuk menentukan sendiri apa2 saja yang dirasa perlu untuk diajarkan. Setiap tahun ganti2 mata kuliah. Bahkan kemandirian juga diberikan kepada setiap dosen untuk menentukan materi kuliah. Kuliah Astronomi Radio-nya Richard Schilizzi, misalnya, materinya beda dengan kuliah Astronomi Radio-nya Mike Garrett padahal tajuknya sama. Kalau gak salah dulu di Jurusan Fisika juga begini, kuliah Mekanika Lanjut-nya Pak Pantur beda dengan isi kuliah Mekanika Lanjut-nya Triyanta.

      Ketiadaan kurikulum baku ini kadang-kadang memang membingungkan mahasiswa tapi juga memberikan kebebasan bagi dosen untuk mengembangkan karakternya, gk cuman nulis doang di papan.

      Kalau gw pribadi merasa cocok dengan sistem ini. Apakah cocok untuk diterapkan di Indonesia, gw gak tau. Tapi kita bisa cari tahu bentuk pengajaran yang cocok dengan karakter masyarakat tertentu. Mencari tahunya harus partisipatif tentunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: