Ujian perbaikan Kosmologi ternyata hari Jumat alih-alih hari Rabu besok!

Thank God it’s Friday…hahahaha…

Ayo belajar!

Oh ya guys, laporan riset kecil gue dah jadi looooh…..heheheehhee….lumayan lah daripada lumanyun, meskipun baru draft pertama. Anthony sama Yuri lagi meriksain sekarang. Percaya atau tidak, laporan ini gue selesaikan dari hari kamis sampai senin malam di tengah-tengah liburan paskah. Nginep di kantor bok! Tidur pake sleeping bag, jiga di Himastron wae. Yang tertarik, klik di sini!

Mulai minggu lalu, gue resmi tuna wisma alias gelandangan alias homeless. Condorhorst, apartemen orang-orang Indonesia di Leiden, diminta untuk diserahkan kembali ke perusahaan pemilik gedung, Portaal. Dari Selasa (03/04) sampai Kamis (05/04) kami banting tulang membongkar apartemen, membuang barang-barang yang tidak diperlukan dan memindahkan yang krusial ke rumah Pak Min. Pekerjaan sampai hari ini bahkan belum selesai. Aturan pengosongan apartemen: 1) Perabotan harus kosong, 2) Karpet di setiap lantai harus disingkirkan, 3) Wallpaper harus dicabut, 4) Tegel atau apapun yang ditambahkan harus dibersihkan, 5) Kelder (gudang bawah tanah) harus dikosongkan, dan… 6) Tidak boleh membuang barang di depan apartemen, harus telepon perusahaan penjual barang bekas untuk diangkut. Wah repot. Belanda birokratis.

Untunglah di kamernet lagi ada kamar murah yang gak perlu pake hospiteren. Ngomong-ngomong soal hospiteren, ini adalah sesi wawancara antara penghuni lama kepada penghuni baru. Format macam-macam dan berbeda-beda dari satu flat ke flat lain. Ada yang resmi banget, satu-satu dipanggil lalu diwawancara penghuni lama, ada yang informal dan dicampur-campur dengan party+minum-minum. Sistem ini biasanya dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa Belanda. Banyak kritik terhadap sistem ini karena mahasiswa-mahasiswa Belanda kecenderungannya memilih calon penghuni yang juga orang Belanda (walaupun ada juga yang tidak begitu kasusnya), akibatnya hasilnya jadi untung-untungan karena kita tidak bisa prediksi apakah kita bisa masuk kamar itu atau tidak. Gue pernah kritik sistem ini waktu Mare (koran mingguan Universitas Leiden) mewawancarai gue soal masalah perumahan bagi mahasiswa (mereka salah nulis nama gue! Goblok): Sistem hospiteren adalah contoh kegagalan internasionalisasi Universitas Leiden karena ada jurang antara komunitas mahasiswa: antara mahasiswa Belanda dengan mahasiswa internasional. Memang ada beberapa kasus di mana dalam sistem hospiteren, mahasiswa Belanda memilih mahasiswa internasional untuk tinggal di apartemen mereka, tapi kebanyakan kasus yang gue jumpai tidak begitu. Ada temen gue yang udah hospiteren enam kali gak diterima-terima juga. Ada yang dua kali baru dapat. Ada yang langsung dapat. Nah kalau begini kan kita yang repot karena tidak dapat diramalkan hasilnya. Padahal tau sendiri mencari rumah di Leiden itu susahnya minta kawin…eh…minta ampun! Sayang kritik gw ini tidak dimuat di mare karena mereka mau bikin artikel tentang harga perumahan bukan soal sistem keseluruhan (ini juga gue kritik habis-habisan karena harga perumahan di Leiden, bagi mahasiswa internasional, mahal sekali. Bisa setengah dari beasiswa bok).

Nah kembali ke laptop… (kata-kata ini sepertinya populer sekali hari-hari ini) kebetulan gue dapat tempat yang murah dan tidak perlu hospiteren, tapi baru bisa masuk tanggal 29 April. Ya sudah 3 minggu nge-gembel dulu dong. Jadi sampai tanggal segitu ya gue akan tidur di kantor atau numpang di Pak Min.

Ada berita bahwa rumah Pak Bambang di Observatorium Bosscha, yang sudah dikosongkan bulan Oktober (atau November? poho euy) lalu, akan dijadikan museum. Wadhuh sepertinya Bosscha semakin tidak jelas saja arahnya ke mana. Atau mungkin semakin jelas? Menuju komersialisasi! Menyambung tulisan gue tentang Bosscha kira-kira empat bulan lalu, gue rasa gue akan menulis lagi tentang ini dalam waktu dekat, segera setelah gue tahu lebih banyak.

Oke. Laporan proyek sudah selesai, hari jumat ujian kosmologi, dan…siapkan mental untuk bikin thesis dan ujian-ujian lainnya.

Written by Tri L. Astraatmadja

After living for 10 years in Europe as a Master's student, PhD researcher, and a postdoc, in 2016 Tri L. Astraatmadja moved on to the United States for a second postdoctoral appointment at the Department of Terrestrial Magnetism, Carnegie Institution for Science, Washington DC. He is now in his third postdoc at the Space Telescope Science Institute in Baltimore, MD.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: