Ini loh yang namanya Bajaj. Source: WikipediaEntah kenapa, hari ini lagi kangen naik Bajaj. Sebagai sebuah transportasi jarak menengah, Bajaj lumayan lah. Dulu ada tebak-tebakan, apa bedanya kura-kura sama bajaj. Kalau kura-kura didekatin, kepalanya masuk dan ngumpet. Kalau Bajaj? Didekati malah kepalanya keluar (sambil ngomong: “mau kemana, mas/mbak/neng?”), hehehehe….


Bajaj adalah sarana transportasi yang begitu penuh vibrasi. Prosesnya juga melibatkan begitu banyak keahlian dan kadang-kadang melelahkan. Semua dimulai dengan menyetop Bajaj yang sedang berjalan atau mendekati yang sedang ngaso di pinggir jalan. Dan sebagaimana kehidupan di Jakarta, selalu dimulai dengan dialog tawar-menawar:

Saya: “Bang, ke TIM, Cikini, berapa?”
Supir: “Goceng, mas!”
Saya: “Tiga rebu aje Bang!”
Supir: “Aaahhh….mahal ni bensin!”

Kalau kita ngotot, ya sudah tinggalkan saja supirnya, setelah itu akan terjadi dua pilihan, 1) Supir akan melengos dan mungkin akan mengomel (kalau kita menawar dengan keterlaluan), atau 2) menyetujui harga yang kita
tawarkan dan memanggil kita untuk naik. Perlulah kita katakan bahwa bajaj kadang-kadang cukup sempit kalau kita berdua, dan bertiga kadang-kadang agak tidak memungkinkan.

Naik bajaj selama setengah jam kadang-kadang lebih melelahkan daripada naik kereta Parahiyangan dari Jakarta ke Bandung selama 3 jam. Bukan apa-apa, getarannya itu bok. Belum lagi mesinnya yang berisiknya minta ampun. Untuk bisa ngobrol di dalam bajaj itu aja sudah menjadi tantangan tersendiri, seru!

Bajaj tidak punya lampu belakang, dan supir jarang (tidak pernah!) memberikan tanda bila ia mau belok. Oleh karena itu tidak pernah ada yang bisa tahu, kapan bajaj belok. Orang bilang, rahasia alam yang tidak bisa dipecahkan adalah: kapan bajaj belok? Bahkan tuhan sendiri pun tidak tahu kapan bajaj belok, lha supirnya mungkin juga tidak tahu. Tentu saja ini adalah sebuah pernyataan yang hiperbolik, tapi bagi orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya di Jakarta yang semakin menggila, pasti paham betul.

Untuk pasangan yang sedang bermusuhan dan mogok ngobrol, mungkin bajaj bisa jadi angkutan yang tepat, karena kebisingan di dalam bajaj membuat orang malas ngobrol. Untuk yang sedang dimabuk cinta mungkin juga bisa jadi angkutan yang tepat, karena kalau mau ngobrol harus mendekatkan mulut ke telinga.

Di dalam bajaj, pemandangan kita benar-benar terbatas. Di sebelah kanan tertutup oleh terpal dengan plastik yang semi-bening, sehingga percuma melihat ke luar melalui plastik tersebut karena begitu terdistorsi. Di belakang juga sama. Ke depan, ada punggung supir, sehingga arah pemandangan kita hanya ke kiri. Supir pun kadang-kadang sulit diajak ngobrol karena kebisingan di dalam.

Turun dari bajaj, seluruh badan bergetar. Kaki juga bergetar. Jangan lupa bayar supirnya. Kalaupun kita gak bawa duit, minta saja supirnya menunggu sementara kita masuk ke dalam rumah dan minta duit kepada orang rumah.

Naik bajaj adalah pengalaman tersendiri. Mulai dari menyetop, tawar-menawar, kebisingannya, hingga turun dengan kaki bergetar, dan membayar, adalah proses unik yang begitu tipikal Jakarta. Mungkin begitulah kehidupan di Jakarta: penuh dengan tawar-menawar, kebisingan, dan getaran. Kehidupan yang vibrant sekaligus annoying. Naik bajaj adalah sebuah alegori untuk menyelami kehidupan di Jakarta.

Entah kenapa, hari ini lagi kangen naik bajaj, hehehehe…
(aduh gak penting banget sih :p)
One morning in Jakarta

P.S. Bajaj bermulai dari India, sebuah perusahaan otomotif yang bermarkas di Pune. Sebagaimana Ford Motor Company yang didirikan oleh Henry Ford, perusahaan ini didirikan oleh Jamnalal Bajaj, seorang pejuang kemerdekaan India dan kawan dekat Mahatma Gandhi. Bila melihat website Bajaj Auto, kita bisa lihat bahwa product line mereka dah lain sekali…

P.P.S. Ado pulang dari India bawa oleh-oleh foto Bajaj India…ternyata Bajaj India lebih baru dari Bajaj yang mereka ekspor ke Indonesia (itu mah produk lama kali ya), pakai argo, dan ada musik. Bisa duduk di depan pula. Jadi bagian depan bukan lagi singgasana milik supir bajaj…
Ado dengan Bajaj India. Source: Ado

Written by Tri L. Astraatmadja

After living for 10 years in Europe as a Master's student, PhD researcher, and a postdoc, in 2016 Tri L. Astraatmadja moved on to the United States for a second postdoctoral appointment at the Department of Terrestrial Magnetism, Carnegie Institution for Science, Washington DC. He is now in his third postdoc at the Space Telescope Science Institute in Baltimore, MD.

4 comments

  1. liat berita, bajaj di jakarta mau diremajakan loh..warnanya jadi kuning, ga seberisik bajaj warna merah..bahan bakarnya juga ganti..apa ya, BBG gitu ya? tapi ukurannya sih masih sama2 aja. katanya, juga lebih menguntungkan bagi sopir2 bajaj..yang pasti, naik bajaj sepertinya agak lebih menyenangkan jadinya.

  2. Apa orang Jakarta, yang selama puluhan tahun punya citra tersendiri di kepala mereka tentang Bajaj, mau beli motor keren begituh? Keren sih kereennn…tapi merek-nya Bajaj geto loooh……:D sebagai orang yang hidup di Jakarta 18 tahun, citra gw tentang bajaj ya yang merah, beroda tiga, dan berisik tea, hahahahhaha…:))

  3. Bok … di Indonesia juga bisa naik bajaj di depan, tapi berarti dipangku sama sopirnya. Kalo sopirnya segede Bang Badjuri gimandang duonk? Hahaha … lu yang enak dong hikhikhik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: