Tidak semua astronom punya hobi memotret benda langit. Bahkan tidak semua astronom hapal langit malam dan banyak yang kalah kemampuannya dalam mengenali langit malam dari astronom amatir yang sering melakukan pengamatan. Ini karena tidak semua astronom adalah pengamat (ada yang ahli teori dan ada pula yang ahli analisis data) dan kalaupun pengamat, tidak setiap hari ada pengamatan. Saya sendiri tidak punya banyak pengalaman mengamat. Baru postdoc kedua saya berkesempatan mengamat secara rutin dengan teleskop 2.5 meter baik secara jarak jauh (menggunakan koneksi VPN dan Skype) maupun langsung di lokasi.

Pada tahun 2013, saat lulus sidang S3, teman-teman saya patungan menghadiahi saya teleskop Celestron LCM114 dan seperangkat lensa okuler. Teleskop ini jenis reflektor Newtonian dengan diameter 11 cm dan pemikul Alt-Azimuth. Dengan teleskop ini saya bisa mengamati Matahari, Bulan, dan planet-planet. Saya menggunakan teleskop ini untuk mengamati Transit Merkurius 2016 dan 2019, dan pemikulnya saya pakai untuk memandu lensa tele saya dalam pengamatan gerhana bulan total tahun 2019. Dengan membeli adaptor kamera saya bisa memotret benda-benda langit dengan menggunakan teleskop ini.

Saya sendiri sayangnya jarang menggunakan teleskop ini karena kesibukan dan juga karena saya selalu tinggal di kota besar dengan polusi cahaya yang tinggi. Waktu masih tinggal di Heidelberg di Jerman saya kadang-kadang menggunakan teleskop ini di atap tempat kerja saya waktu itu di Max-Planck-Institut für Astronomie (MPIA), karena MPIA ada di luar pusat kota Heidelberg jadi cukup gelap.

Teleskop ini termasuk teleskop untuk pemula dan bagi pehobi astrofotografi, namun rupanya teleskop ini punya banyak kekurangan. Baru beberapa hari ini saya menyadari bahwa ternyata teleskop saya bukanlah teleskop Newtonian murni yang hanya terdiri atas cermin primer parabolik dan cermin sekunder datar. Cermin teleskop saya ternyata permukaannya tidak menyerupai permukaan antena parabola (cermin parabolik) melainkan menyerupai permukaan bola (cermin sferis). Perbedaan antara keduanya adalah, cermin parabolik hanya punya satu titik fokus, sementara pada cermin sferis ada banyak titik fokus. Untuk mengatasi masalah banyaknya titik fokus ini, ditambahkanlah satu elemen korektor yang dinamakan lensa Bird-Jones (atau Jones-Bird) sehingga cahaya bisa jatuh pada satu titik fokus. Alasan pemilihan cermin jenis ini adalah karena cermin sferis lebih mudah dan lebih murah dibuat daripada cermin parabolik, sehingga ongkos produksi bisa ditekan. Adanya lensa korektor ini jadi menimbulkan masalah dalam kolimasi (penyejajaran cermin primer dengan cermin sekunder) dengan menggunakan laser, karena lensa korektor jadi menyebarkan berkas laser sehingga menyerupai lingkaran dan bukan lagi menyerupai titik. Ini menyulitkan pembidikan. Cara terbaik untuk mengkolimasi reflektor jenis ini adalah dengan melepas terlebih dahulu lensa korektor.

Salah satu objek favorit saya adalah Bulan. Saya senang memotret Bulan dalam berbagai posisi. Salah satu mimpi saya adalah mendapatkan foto Bulan terbit persis di belakang Gedung Capitol. Saya sudah menghitung tanggal-tanggalnya namun selalu ada kendala cuaca. Karena alasan kepraktisan, peralatan saya untuk keperluan memotret Bulan ini adalah lensa Nikkor Reflex 1000 mm f/11. Lensa ini sesungguhnya adalah sistem optik katadioptik yang menggabungkan lensa dan cermin untuk memfokuskan cahaya. Lensa ini cukup sering saya gunakan untuk memotret Bulan dan Matahari.

Beberapa lalu muncul bintik Matahari yang cukup besar pada permukaan Matahari, setelah sekian lama Matahari tampak klimis. Saya menggunakan lensa 1000 mm untuk mengambil foto. Ketika membandingkan penampakan Matahari tersebut ketika diamati dengan teleskop Celestron, loh kok bintiknya tak muncul. Saya curiga teleskop ini tidak bisa mendapatkan fokus maksimal karena tidak terkolimasi dengan baik. Saya coba kolimasi ulang dengan menggunakan okuler Cheshire yang sudah saya miliki sejak lama.

ADA02182b

Hasil kolimasi tidak meningkatkan kualitas gambar. Karena penasaran saya melihat-lihat Youtube dan berbagai artikel di internet tentang cara kolimasi Newtonian. Beberapa orang menganjurkan menggunakan kolimator laser untuk bisa lebih akurat menyejajarkan cermin sekunder. Kemudian saya menyadari bahwa ternyata teleskop saya bukanlah teleskop Newtonian sejati karena adanya lensa korektor dan ini akan merepotkan proses kolimasi. Karena penasaran dengan kolimator laser, saya akhirnya beli satu dan… teleskop masih belum terkolimasi dengan baik! Saya mulai curiga bahwa kolimator laser yang saya beli ini tidak terkolimasi dengan baik. Untuk mengkolimasi kolimator, saya butuh V-block yaitu sebuah landasan berbentuk huruf V yang bisa digunakan untuk meletakkan objek berbentuk silinder. Apabila kolimator diletakkan di atas V-block, kolimator tersebut tidak akan berubah posisi apabila diputar pada sumbunya. Ah ini benar-benar proses yang memusingkan.

Persoalan kolimasi teleskop murah-meriah ini masih belum selesai dan hingga hari ini saya masih mendapatkan gambar yang tidak fokus. Sore tadi terjadi konjungsi Bulan, Jupiter, dan Saturnus dan saya mendapatkan Bulan yang agak blur, serta Jupiter dan Saturnus yang tidak fokus. Saya lalu mencoba memotret Jupiter dengan menggunakan lensa 1000 mm.

Tanpa pemikul yang bisa mengikuti gerak benda-benda langit, lensa 1000 mm saya tidak berdaya memotret planet-planet, namun saya tetap mencoba memotret Jupiter. Hasilnya lumayan, perbesaran gambar menunjukkan empat satelit Galilean sebagai empat titik di samping Jupiter.

Jupiter dan empat satelit Galilean. Satelit keempat, Callisto, cukup redup dan hampir-hampir tak muncul di gambar ini, namun selalu hadir di setiap gambar yang saya ambil.

Sementara itu… saya masih tetap memutar otak untuk bisa membereskan teleskop saya yang kacrut ini. Tentunya saya tidak berminat menjual teleskop karena bagaimanapun ini adalah hadiah dari teman-teman saya, sebuah tali kasih yang mengingatkan saya pada masa-masa saya menjalani S3 bersama mereka. Mudah-mudahan ada cara untuk membetulkan teleskop ini atau minimal memahami sejauh mana kinerja teleskop ini.

Written by Tri L. Astraatmadja

After living for 10 years in Europe as a Master's student, PhD researcher, and a postdoc, in 2016 Tri L. Astraatmadja moved on to the United States for a second postdoctoral appointment at the Department of Terrestrial Magnetism, Carnegie Institution for Science, Washington DC. He is now in his third postdoc at the Space Telescope Science Institute in Baltimore, MD.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: