Melihat pembubaran kebaktian di Gedung Sabuga Bandung (hanya di seberang jalan dari tempat saya kuliah dulu di Jurusan Astronomi ITB), saya bersedih melihat Indonesia kembali mengulangi tradisi intoleransinya setiap tahun di bulan Desember. Setiap tahun seolah-olah hanya dua tradisi natal di Indonesia: Ramai berdebat haram tidaknya muslim mengucapkan selamat natal, dan membubarkan kebaktian.

Melihat ini terjadi lagi, saya kini menunggu tiga hal berikut ini terjadi di Bandung (dan daerah-daerah lain):

  1. Ridwan Kamil mengadakan konferensi pers, mengatakan bahwa pembubaran kegiatan keagamaan adalah tindakan intoleransi dan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kebhinnekaan Indonesia. Yah seperti wali kota New York City Bill de Blasio ini lah yang membela polisi muslim ini.
  2. Demonstrasi besar-besaran warga muslim Bandung yang menolak diatasnamakan oleh sekelompok muslim yang membubarkan kegiatan peribadatan, yah kayak ribuan warga muslim di Perancis ini lah yang berdemonstrasi menolak ISIS, seraya menolak diasosiasikan dengan kelompok yang melakukan tindakan barbar atas nama agama Islam.
  3. Imam Masjid Agung Bandung berseru: Warga nasrani boleh beribadah di masjid kami. Yah hitung-hitung sebagai wujud solidaritas lah atas warga minoritas yang tertindas tidak hanya oleh warga mayoritas tapi juga oleh hukum yang tidak berpihak. Mudah-mudahan masjid-masjid lain mengikuti. Ya kayak gereja-gereja di Palestina itu loh yang mengumandangkan adzan sebagai wujud solidaritas atas peraturan yang melarang dikumandangkannya adzan.

Tentunya saya ingin berharap minimal satu dari tiga hal ini bisa terjadi, sebagai sebuah harapan bahwa Indonesia masih bisa melindungi warga minoritasnya. Tapi apa lah awak ini… hanya kaleng-kalengnya saja…

Pembaharuan:
Walikota Bandung Ridwan Kamil meminta maaf atas adanya pembubaran kebaktian. Saya sangat salut pada Kang Emil dan lega ada pejabat publik yang berani melakukan ini, juga penegasan beliau bahwa hak beragama warga dilindungi negara.

Written by Tri L. Astraatmadja

After living for 10 years in Europe as a Master's student, PhD researcher, and a postdoc, in 2016 Tri L. Astraatmadja moved on to the United States for a second postdoctoral appointment at the Department of Terrestrial Magnetism, Carnegie Institution for Science, Washington DC. He is now in his third postdoc at the Space Telescope Science Institute in Baltimore, MD.

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: