Bila kita rajin bermedia sosial, pasti pernah kita liat dua gambar ini:

hoax_bego_01_h450pxhoax_bego_02_h450px

Ini contoh hoax bego. Menyebar fitnah, tapi fitnahnya saking begonya ya bikin ketawa aja karena begitu mudah disanggah. Sudah jelas bahwa Ulin dan Amalia adalah dua orang berbeda walaupun yah… memang agak-agak mirip. Minuman berbotol beling warna hijau ya belum tentu minuman keras (lagipula itu foto diambil tahun lalu waktu Tito Karnavian masih jadi kapolda metro jaya dan jauh sebelum ada ribut-ribut pilkada ini). Hoax terbantahkan. Selesai. Namun apa yang selanjutnya terjadi? Waktu habis buat mengomentari kebegoan ini, berlomba-lomba membuat celaan yang lebih nyelekit seraya saling berhigh-five satu sama lain, dan menepuk dada karena tidak tertipu oleh si pembuat hoax. Alhamdulillah gue gak ketularan bego kayak kaum 2D.

Tapi jangan-jangan si pembuat hoax memang sedari awal tahu bahwa hoax yang dia bikin memang bego. Tujuan utamanya memang bukan buat menyebarkan fitnah tapi ya supaya orang sibuk ngomongin hoax bego yang dia bikin aja dan lupa bahwa ada hal-hal lain yang lebih penting untuk kita perhatikan dan diskusikan. Si pembuat hoax tahu bahwa meskipun ini bego tapi pasti akan ada sedikit orang yang percaya dan akan ikut menyebarkan. Guna menemukan orang yang mudah percaya hoax bego ini, dia sebarkanlah hoax ini berkali-kali dengan menggunakan akun-akun kelonengannya (akun clone, i.e. akun palsu yang dimiliki oleh satu orang), dan jadi viral lah hoaxhoax bego ini.

Bagaimana kita seharusnya merespon hoaxhoax bego ini? Di saat kita sibuk menjawabi kebegoan ini dan timeline kita dipenuhi segala rupa komentar-komentar, perhatian dan energi kita teralihkan dari berita-berita penting yang barangkali membutuhkan lebih banyak perhatian kita. Sebutlah protes petani Sukamulya karena mereka menolak perampasan lahannya, atau lolosnya Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) versi baru yang yah… gimana ya… secara substansi tidak banyak berubah dari versi lama. Oh, juga ada penangkapan 106(!) aktivis Komite Nasional Papua Barat (KNPB) di kota Sorong, Papua. Karena berkumpul. Dan Kapolres Sorong tidak ingin ini diberitakan. Kita lupa pada penggusuran-penggusuran agresif yang dilakukan Ahok yang mengabaikan hak-hak dasar warga dan semakin meminggirkan warga miskin Jakarta. Hak kita untuk hidup layak dan bermartabat masih dapat digusur sewenang-wenang oleh penguasa, dan bila kita protes lewat internet (atau secara lisan tapi kemudian divideokan dan diunggah ke YouTube) maka penguasa akan memenjarakan kita dengan UU ITE. Berkumpul dan berorganisasi juga akan membuat kita ditangkap. Kejadian-kejadian seperti ini luput dari perhatian kita meskipun ini berpotensi lebih membahayakan daripada persebaran hoax bego.

Hoax bego perlu dijawab, tentu supaya kebegoan ini gak menyebar ke mana-mana dan menular, tapi mungkin sebaiknya jangan terlalu asik mengurusi begituan karena bisa jadi tujuan awal hoax bego adalah pengalihan perhatian. Cobalah lihat sekeliling kita manakala ada hoax bego mulai membahana di timeline kita, jangan-jangan ada sesuatu sedang terjadi di luar sana, sesuatu yang para penguasa tidak ingin kita mengkonsentrasikan tenaga dan pikiran kita, karena hak-hak dasar kita sedang dipreteli satu per satu.

Pada akhirnya kita sendiri lah yang harus menemukan keseimbangan antara menyanggah (debunk) dan mengomentari hoax bego, tapi mudah-mudahan kita bisa bersepakat bahwa saat ini perhatian kita terlalu banyak dikuras oleh hoax bego. Sanggahlah secara proporsional, dan mari kita pindah ke hal-hal lain yang lebih membutuhkan perhatian kita: Penindasan dan diskriminasi yang terjadi di sekitar kita, dan bagaimana kita bisa merebut kembali hak-hak dasar kita.

Oh ya, selain hoax bego, waspadai juga pejabat ngomong bego. Kali ini saya tidak akan memberikan contoh tapi sudah sering terjadi, perhatian kita teralihkan oleh omongan bego pejabat seperti perhatian kita teralihkan oleh hoax bego. Lagi-lagi mungkin pejabat itu tau bahwa omongannya memang bego.

Written by Tri L. Astraatmadja

After living for 10 years in Europe as a Master's student, PhD researcher, and a postdoc, in 2016 Tri L. Astraatmadja moved on to the United States for a second postdoctoral appointment at the Department of Terrestrial Magnetism, Carnegie Institution for Science, Washington DC. He is now in his third postdoc at the Space Telescope Science Institute in Baltimore, MD.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s