Sudah tiga hari saya dan teman sekantor, Ching-Cheng, nongkrong di ruang kendali ANTARES. Minggu ini kami dapat kebagian giliran piket mengendalikan ANTARES secara insitu (langsung di lokasi) di Toulon. Pada prinsipnya piket dilakukan secara remote dengan klien SSH dan VNC, namun secara berkala harus ada yang datang langsung ke ruang kendali di Toulon dan kali ini giliran kami.

Detektor ANTARES lokasinya 2.5 km di bawah Laut Tengah, sekitar 40 km lepas pantai Toulon. Ruang kendali detektor ada di pinggir pantai Tamaris, sebuah daerah di luar kota Toulon. Ada kabel serat optik dan kabel listrik yang menghubungkan detektor dengan ruang kendali, sehingga kami bisa berkomunikasi dengan detektor bawah laut tersebut.

Toulon adalah sebuah kota kecil di pinggir Laut Tengah, lokasi pelabuhan armada angkatan laut Perancis. Lokasinya di Perancis selatan dan ujung barat Côte d’Azur (Pantai biru), oleh karena itu suhunya panas dan terik. Lumayan lah karena di Belanda saya rasa musim panas sudah berakhir. Hampir setiap hari berawan dan suhunya mulai sekitar 20an derajat sementara di Toulon suhunya sekitar 30 derajat dan cuaca selalu cerah setiap hari.

Tugas piket ini mengharuskan kami memegang kendali detektor setiap hari antara pukul sembilan pagi hingga pukul enam sore. Sebelum pergi makan siang dan meninggalkan ruang kendali di sore hari kami harus memikirkan setup detektor yang paling optimum.

Karena ruang kendali Antares terletak di desa yang sulit dijangkau transportasi, saya cari losmen yang tidak terlalu jauh dari ruang kendali supaya tidak terlalu capek bolak-balik. Akhirnya ketemu juga melalui situs turis. Proses reservasi sudah dilakukan jauh-jauh hari tapi sialnya pemilik penginapan tidak meninggalkan alamat yang jelas, hanya memberikan nama jalan yang kebetulan satu jalan dengan alamat ruang kendali. Begitu sampai di jalan itu saya telepon dia namun tidak diangkat. Di dekat kami ada bapak-bapak berpenampilan seperti tukang ojek (juga lagi naik motor) dan sedang mengobrol dengan emak-emak perancis berdaster, ah ya sudahlah tanya saja orang-orang lokal mungkin mereka tahu.

Di pinggir jalan juga ada got (selama hampir empat tahun di Eropa baru kali ini saya menjumpai ada got di pinggir jalan). Jadi walaupun tiang listrik tidak dijumpai, deskripsi suasana ini mirip sekali dengan suasana di sebuah gang di Indonesia padahal ini Perancis.

“Vous-etez perdu?” (Nyasar ya?) Tanya bapak-bapak berpenampilan seperti tukang ojek. Oui, apparemment, (Kayaknya sih begitu) saya menjawab sambil nyengir. Saya tanya dia apakah dia tau alamat ini, sambil menunjuk alamat di notes saya, lalu dia bilang bahwa ini alamatnya sudah benar karena di sinilah jalannya. Lalu bertanyalah dia sesuatu yang sudah lama saya tidak dengar, “Qui cherchez-vous?” (Nyari siapa?). Karena masih belum dong (maklumlah, meskipun kata orang Bahasa Perancis saya bagus tapi sebenarnya saya masih kesulitan kalau harus mendengarkan percakapan Perancis) saya bilang kalau kami mencari losmen yang namanya sebut saja Villa ci-et-ça (mirip di puncak saja, penginapan diberi nama Vila ini dan itu). Barulah pertanyaan berikutnya dari si Bapak tukang ojek menyadarkan saya akan maksud dari pertanyaan awal dia, “Mais comment s’appelle le propriétaire?” (lah nama yang punya siapa?)

Jadi sebagaimana di Indonesia, si Bapak tukang ojek kenal daerah ini dan juga kenal dengan nama-nama tetangga jadi dia merasa bisa membantu kalau dia tau nama orang yang kita cari. Barulah saya paham. Suasana semakin terasa familliar ketika si emak-emak Perancis berdaster juga ikut nimbrung sambil menunjuk suatu arah dan berkata, “kayaknya sih di gang sebelah situ. Kalau yang di situ mah tempat tinggal Bapak anu,” (ini mah sepenangkapan Bahasa Perancis saya saja, tapi sepertinya sih si Emak mau ngomong begitu) sambil berbicara kepada saya, “nah, dik, kalau saya rumahnya di sini…”

Suasana ini semakin diramaikan dengan kehadiran ibu-ibu yang sedang mengajak anak dan anjingnya jalan-jalan, dan bertanyalah si Bapak tukang ojek kepada ibu, “Bu tau gak di mana Losmen X punya Bapak Anu?” Si ibu terkejap lalu bilang, “Hah Losmen X? Di mana ya rasanya kok pernah liat. Ada di jalan ini kok saya hampir setiap hari lewat sini…” Kemudian mereka berdiskusi apakah ke arah sana atau ke arah situ. Si Ibu yang baru lewat ini kemudian ngotot mengatakan bahwa losmen yang saya cari ada sekitar beberapa menit jalan kaki mengikuti jalanan tempat kami berada. Saya yang sedang terbengong-bengong lalu dikagetkan oleh ucapan si Bapak tukang ojek, “Begini aja deh, saya ikuti jalan ini ke sana ya… saya cari nama losmen itu, nanti saya balik lagi… kalau ketemu saya kasih tahu kamu.” Lalu dia memakai helmnya (kalau di Perancis, pengendara motor juga wajib memakai helm dan menaatinya), menyalakan motor, lalu melaju mengikuti jalan tempat kami berada. Beberapa menit kemudian dia kembali lalu memberi tahu nama-nama losmen yang dia lihat lalu si Ibu-yang-menuntun-anjing menyadari kepikunannya, “OOOHHH namanya Losmen Y bukan Losmen X… hehehehe… maklum lah habis mirip-mirip sih…”

Saya sudah mau bilang terima kasih dan bilang tidak-apa nanti saya telepon lagi orangnya, akan tetapi si Bapak-mirip-tukang-ojek lalu berkata, “Ya sudah dik saya ikuti dulu jalan ke arah sebaliknya ya barangkali tadi kelewatan,” lalu dia kembali mengendarai motornya ke arah berlawanan. Beberapa menit kemudian dia kembali dan bilang tidak menemukan nama losmen maupun nama pemilik yang saya cari. Saya lalu bilang tidak apa-apa, akan saya telepon nanti orangnya. “Bon courage,” (yang tabah ya nak) yang kemudian saya jawab, “C’est gentil. Merci beaucoup monsieur et bonne journée” (Bapak baik sekali. Terima kasih banyak dan selamat siang).

Pada akhirnya kami telepon kembali pemilik losmen dan saya tanya apakah dia bisa kasih arahan untuk datang ke losmennya. Dia lalu bilang kalau dia akan keluar untuk mencari kami. Beberapa menit kemudian istrinya datang mengendarai mobil dan menyilakan kami naik lalu membawa kami ke rumahnya. Ternyata losmen yang saya tinggali juga adalah tempat tinggal keluarga ini, mereka tinggal di lantai bawah sementara tamu-tamu menginap di lantai atas.

Episode ini untuk kesekian kalinya menjadi bukti yang mematahkan anggapan-anggapan bahwa orang bule berbeda dengan orang Indonesia dalam makna bule lebih individualis, lebih cuek, tidak peduli masalah orang, dingin, dan lain-lainnya. Sudah sering saya mengalami hal-hal seperti di atas dalam tingkatan yang berbeda (dan juga di negara berbeda), dan menyadarkan saya bahwa para prinsipnya persoalan tolong-menolong sebenarnya adalah hal dasar yang bisa dilakukan siapapun tanpa peduli orang ini dari ras atau golongan apapun. Orang Perancis (atau dari negara manapun) ternyata sama baik dan jahatnya juga dengan orang dari negara manapun. Konteks sosial dan pengalaman pribadi lah yang mendorong seorang individu, misalnya, menaruh prasangka atau cuek, dingin, dan lain-lain.

Walaupun persoalan tolong-menolong ini nampaknya tidak dibatasi oleh negara, banyak juga yang mengamati bahwa orang dari kota justru yang cenderung lebih individualis dan cuek sementara orang dari kampung lebih ngariung (kata orang Sunda) dan pedulian. Ada juga yang bilang orang kota cenderung lebih curigaan sementara orang kampung lebih naif, atau bahkan sebaliknya, orang kota lebih toleran sementara orang kampung lebih curigaan pada orang asing. Pandangan-pandangan ini tentu saja sulit dipercaya kalau kita terapkan pada tiap-tiap individu namun dalam konteks statistik bisa jadi benar dengan tingkat kepercayaan tertentu (saya tidak akan membantah Anda bila Anda tidak percaya statistik karena interpretasi data statistik pun sulitnya bukan main). Hasil-hasil pengamatan ini kemudian dicoba dijelaskan dalam konteks urbanisasi yaitu pergerakan masyarakat dari daerah-daerah pedesaan menuju kota-kota besar, orang lalu mencoba memahami bagaimana proses urbanisasi mengubah cara pandang kolektif seseorang terhadap segala sesuatu di luarnya.

(Tadinya cuman mau cerita pengalaman dibantuin bule kampung eh malah ngalor-ngidul ke soal urbanisasi…)

Written by Tri L. Astraatmadja

After living for 10 years in Europe as a Master's student, PhD researcher, and a postdoc, in 2016 Tri L. Astraatmadja moved on to the United States for a second postdoctoral appointment at the Department of Terrestrial Magnetism, Carnegie Institution for Science, Washington DC. He is now in his third postdoc at the Space Telescope Science Institute in Baltimore, MD.

6 comments

  1. Salam kenal dari Indonesia kisanak….
    Ane kenal blog ente dari CID, btw…Baca tulisan ini jadi pengin ke perancis… pengin liat emak-2 berdaster… hihihi…

  2. Hai, salam kenal juga. Salam buat oknum berinisial *uhuk uhuk* PU hehehehe…

    Di kampung sini selain emak2 berdaster dan bapak2 ala tukang ojek juga ada got, tiang listrik, dan rumput2an liar hehehehe… gk jauh beda sama di Indonesia :p

  3. jadi inget pengalaman di Gare du Nord pas pusing nyari si cherrie dan akhirnya nanya ke 3 tentara. udah hopeless ga mungkin dibantuin dan dia ga akan jawab pake english. ternyata itu 3 tentara malah bantuin gue anterin ke bagian informasi sekaligus minta nama cherrie buat mau diumumin. untung sebelon kejadian kita berhasil ktemu cherrie.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: