WARNING: SPOILER AHEAD. Anda sudah diperingatkan. Jangan baca kalau belum nonton filmnya.

Malam ini saya terpekur setelah menonton Star Trek. Yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, J.J. Abrams menjanjikan perubahan pada waralaba yang kini sudah dianggap basi oleh banyak trekkies, dan dia sungguh-sungguh memberikannya. Sebuah dialog terjadi antara pembuat film ini dengan saya, salah seorang fanboy Star Trek (karena sebuah film pada hakikatnya adalah sebuah dialog antara si pembuat film dan pemirsa, sebuah transfer ide). Saya mencerna ide-ide yang ditawarkan para pembuat film, sebuah proposisi yang menarik: Ini adalah retcon, semuanya tidak terjadi di realitas yang kita alami selama ini, tetapi adalah sebuah realitas alternatif. Pertanyaannya kini: dapatkah kita menerima realitas alternatif ini?

Saya terpukau melihat kepiawaian para penulis dalam menangkap esensi Star Trek dan menuangkannya dalam cerita ini. Semuanya terasa wajar, normal, dan tidak dibuat-buat. Para pemain berusaha sebaik-baiknya mempertahankan karakter yang sudah dikembangkan oleh aktor-aktor lama: William Shatner, Leonard Nimoy, bahkan aksen aneh Walter Koenig tetap ada. Semangat itu tetap ada, sebuah refleksi ketegangan masa perang dingin tapi tokh tetap ada persahabatan antar bangsa. Tembak dulu pikir belakangan, yang penting nekat dan berani. Pertarungan antara logika dan emosi. Ketakutan terhadap penjelajahan antariksa, namun ada rasa penasaran. Kru cewek mengenakan rok mini. Kejantanan Kapten Kirk menaklukkan para wanita. Bahkan ada redshirt yang terbunuh.

Namun demikian di balik itu semua, semua ini terasa tidak nyata. Star Trek yang saya kenal adalah Star Trek yang diimajikan oleh William Shatner dan kawan-kawan. Betapapun kerasnya Chris Pine mengimajikan James T. Kirk, dia bukanlah William Shatner. Pun juga dengan Sylar yang memang mirip sekali dengan Spock. Tapi diapun bukan Leonard Nimoy. Sepanjang film, saya merasa mereka adalah anak-anak penggemar Star Trek yang sedang bermain peran, sebagaimana saya dan teman-teman sewaktu kecil berpura-pura main Star Trek. “Kau jadi Spock dan aku Kapten Kirk.” Ruang tamu menjadi anjungan kami dan tudung saji kami jadikan kemudi. Semuanya terasa nyata bagi kami tapi kami tetap bukan William Shatner ataupun Leonard Nimoy.

Ini adalah persoalan persona dan realitas yang saya alami. Kapten Kirk, Spock, Dr. McCoy, yang diimajikan oleh William Shatner dan kawan-kawan adalah persona yang sudah lekat dalam benak saya. Wajah mereka sudah berubah karena umur dan DeForest Kelley yang memainkan Dr. McCoy bahkan sudah meninggal, tapi kenangan tentang mereka tetap hidup di alam pikiran. Maka ketika realitas ini bertabrakan dengan realitas baru, timbullah konflik dan kebingungan. Para aktor muda ini bermain begitu baik dan wajar, namun ya itu tadi. Pikiran saya menolak untuk menerima aktor-aktor ini sebagai imaji baru. Kasarnya, mereka adalah impostors (apa ya bahasa Indonesianya?).

Bagi orang-orang kolot seperti saya ini, para penulis memberikan jalan keluar: Ini adalah realitas alternatif akibat orang dari masa depan bermain-main dengan masa lalu. Teori-teori fisika kontemporer benar-benar sebuah terobosan karena memberikan alat bagi para penulis skenario film fiksi ilmiah bermain-main dengan realitas. Dengan alat ini, orang dapat berkata, “tak apa-apa, ini tidak nyata karena ini adalah realitas alternatif.” Persoalannya, kedua-duanya adalah sebuah realitas yang bobotnya sama. Kita menjadi bias pada satu realitas karena kita hidup dalam universum yang menjajakan realitas tersebut, sementara J.J. Abrams dan kawan-kawan memberikan jendela yang memungkinkan kita mengintip realitas lain. Suka atau tidak suka, realitas ini sebenarnya sama nyatanya dengan realitas yang kita alami, namun preferensi kita adalah realitas di alam semesta kita sendiri.

Di akhir film saya bertepuk tangan karena film ini begitu hebat (di akhir film Indiana Jones terbaru saya tidak tepuk tangan) karena berhasil membangkitkan waralaba Star Trek yang sudah begitu lesu dan terpuruk, saya ingin menerima realitas ini sebagai Star Trek, tapi agak sulit karena di kepala saya yang tergambar adalah William Shatner dan kawan-kawan yang sedang memainkan skenario ini. Namun pikiran ini terasa janggal karena ini kan realitas alternatif, bagaimana mungkin kok ada William Shatner?

Jadi sekarang ada dua realitas Star Trek yang dua-duanya sama benar: 1) Semesta Star Trek yang berisi William Shatner, Leonard Nimoy, dan kawan-kawan, dan 2) Semesta Star Trek yang berisi Chris Pine, Sylar, dan kawan-kawan. Meskipun kedua semesta ini mengimajikan karakter-karakter yang sama namun mereka adalah semesta yang berbeda dan tidak dapat saling dipertukarkan. Kirk muda memang diimajikan oleh Chris Pine tapi ia tidak tumbuh dewasa menjadi William Shatner. Ia akan tumbuh dewasa menjadi Chris Pine. Pun juga sebaliknya, Kirk dewasa adalah William Shatner namun masa lalunya bukanlah Chris Pine. Keduanya tidaklah satu. Para penulis skenario menyadari penuh hal ini dan itulah sebabnya realitas alternatif menjadi plot device (aduh, apa ya Bahasa Indonesia-nya?). J.J. Abrams sudah memberikan jalan keluarnya, nah maukah kita menerima kedua realitas ini sebagai sesuatu yang sama bobotnya?

Terus terang saya masih rada kesulitan menerima realitas kedua meskipun penampilan mereka brillian. Video terlampir cukup mewakili perasaan saya saat ini (video ini sebenarnya dibuat sudah agak lama, ketika Star Trek XI baru dikeluarkan trailer-nya), sebuah parodi yang mengena: menggambarkan sebuah ketakutan untuk menerima realitas yang baru.

Saya pikir, hanya ada satu solusi bila ingin menerima realitas kedua Star Trek tapi masih gamang: sekuel.

Written by Tri L. Astraatmadja

After living for 10 years in Europe as a Master's student, PhD researcher, and a postdoc, in 2016 Tri L. Astraatmadja moved on to the United States for a second postdoctoral appointment at the Department of Terrestrial Magnetism, Carnegie Institution for Science, Washington DC. He is now in his third postdoc at the Space Telescope Science Institute in Baltimore, MD.

3 comments

  1. ah lo tri ujung-ujungnya minta sekuel hahahaha.. btw males juga liat star trek baru ini salah konsepsi tentang lubang hitam. untuk memperbaiki kesalahan2 ini memang butuh sekuel.

  2. Itulah Ton, kebimbangan seorang penggemar Star Trek. Di satu sisi belon biasa dengan muka-muka baru memainkan peran yang sudah “melekat” (kata Edi) dan menganggap mereka adalah penipu, di satu sisi terpikat dengan rasa baru yang ditawarkan. Solusinya? Sekuel! Hehehehehe…

    Setuju, konsep fisikanya memang kacrut. Tapi Star Trek kapan sih gak ngawur soal fisika? Kompensator Heisenberg? Halooo… (Itu kau terima saja dengan lapang dada, hehehehe…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: