Satelit Gaia

konsepsi pelukis tentang Satelit Gaia. Kredit: ESA

ELSA school on the Science of Gaia telah dimulai! Sebuah lokakarya yang diadakan untuk mempertemukan pakar-pakar astrometri (pengukuran posisi dan gerak bintang) dari seluruh dataran Eropa, sebuah ajang penerusan ilmu antara pakar tua dengan pakar-pakar masa depan yang baru saja memulai studi maupun postdocnya di bidang ini. Apa yang mereka bicarakan adalah penelitian-penelitian ilmiah yang dapat dilakukan dengan Gaia, sebuah satelit astrometri paling mutakhir yang direncanakan untuk diluncurkan pada tahun 2012 yang akan datang. Singkatnya, Gaia akan melakukan sensus bintang! Sebanyak paling tidak 1 milyar bintang di dalam Galaksi kita akan disensus: diukur posisinya dengan akurat, diukur kecerlangan cahayanya dalam berbagai rentang panjang gelombang, diukur gerak dirinya, dan…sebagai bonus: kecepatan radial! Sensus menyeluruh ini adalah lompatan besar setelah kesuksesan misi Hipparcos sepuluh tahun sebelumnya. Hipparcos telah berhasil melakukan hal yang sama untuk kurang lebih 100 ribu bintang di sekitar Matahari kita. Kali ini, Gaia berencana untuk melampaui rekor ini 10 000 kali lipat dalam jumlah, dan 1000 kali lebih teliti!

Satelit Hipparcos

Satelit Hipparcos berhasil mengukur paralaks dan gerak diri dari lebih dari 100 000 bintang dengan ketelitian milidetikbusur. Kredit: ESA

Tentu saja butuh persiapan untuk dapat mengolah data yang begitu besar jumlahnya, dan untuk itulah dibutuhkan pelatihan-pelatihan semacam ini untuk dapat mempersiapkan astronom-astronom muda yang akan menspesialisasikan dirinya di bidang astrometri agar dapat menangani data dalam jumlah besar ini. Dengan begini mungkin diharapkan ilmuwan-ilmuwan tua yang telah berjuang mati-matian berpuluh-puluh tahun untuk menyiapkan satelit ini, mulai dari pendanaan, perencanaan, pembangunan instrumen, hingga persiapan penanganan data, dapat pensiun dengan tenang dan melihat astronom-astronom muda putar otak menginterpretasikan data yang berlimpah ruah tersebut.

Pada hari pertama, saya datang agak siang karena pagi hari masih di Tilburg, jadi tidak bisa menghadiri sesi pagi dan siang. Namun sore hari pukul lima ada makan-makan keju dan minum-minum anggur di Lorentz Center, di lantai 3. Hanya satu lantai di bawah kantor saya. Ketika saya turun ke bawah sambil menenteng gelas kopi, ruang santai sudah dipenuhi banyak orang. Anthony Brown yang pernah mengawasi penelitian saya tentang pencarian bintang hipercepat, sudah di situ. Kami ngobrol-ngobrol sebentar lalu saya mulai berkenalan dengan astronom-astronom muda masa depan dan astronom-astronom senior yang paper-papernya banyak kami rujuk. Catherine Turon dan Yveline Lebreton, begawan-begawan astrometri dari Perancis, juga terlihat di situ dan sedang ngobrol-ngobrol. Di sudut lain nampak Lennard Lindegren, pakar astrometri dari Swedia, sedang ngobrol dengan Rudolf Le Poole, pakar astrometri dan instrumentasi dari Leiden. Mereka berdua adalah dua orang astronom senior yang telah bekerja keras membangun satelit Hipparcos.

Game-nya Frederic, hehehehe...

Silent Hunter III, game favoritnya Frédéric Thévenin, hehehehe… Supaya berasa claustrophobic serasa di dalam sebuah U-boot, mainnya harus sambil pakai kardus di kiri dan kanan.

Di antara kerumunan astronom-astronom tua dan muda yang sedang asik berkenalan, mengenang masa lalu yang jaya, dan membangun koneksi ini, nimbrunglah saya ke dalam obrolan antara Anthony Brown, Frédéric Thévenin dari Nice, Perancis, dan Andreas Korn dari Uppsala, Swedia. Apa yang sedang mereka bicarakan? Tidak lain dan tidak bukan adalah soal paling penting selain astrometri yaitu…game komputer! Hehehehe…

(Dialog aslinya tentu saja dalam Bahasa Inggris, namun saya terjemahkan ke dalam bahasa gaul supaya lebih berasa atmosfernya, hehehehe…)
Anthony Brown (AB): Jadi sekarang kamu lagi main gim apa, Frédéric?
Andreas Korn (AK): Masih sibuk dengan flight simulator?
Frédéric Thévenin (FT): Wah enggak, gw sekarang lagi asik main Silent Hunter III, itu loh gim simulasi kapal selam. Di seri ini yang disimulasikan adalah U-boat pas jaman Perang Dunia II! Beberapa waktu lalu gw juga asik main gim bajak laut tapi lupa judulnya. Sekarang lagi keranjingan Silent Hunter.
AK: Wah itu simulasi kapal selam feelingnya berasa claustrophobic gak? Mainnya harus pake kardus di kiri kanan loe? Hehehehhe…biar berasa sempit…
FT: Ya gw sih kagak pake gituan, tapi itu gim realistik abeesss…gw pake dialog bahasa Jerman biar lebih realistik. Kaptennya ngomong, “loss!” Hehehehe…

Game-nya Anthony, hehehehe...

Rome: Total War, game favorit Anthony. Doi beli komputer dengan spesifikasi buat main game, hehehehe…

AB: Wah asik ya masih bisa main gim. Tahun lalu gw beli Rome: Total War dan itu aja yang gw mainin sampe sekarang. Pas lah itu buat orang seusia gue, hehehehe… tapi belakangan ini gw sibuk abes jadi kagak bisa maen.
AK: Yeah, gw beli gim cuma kalo anak gw pengen ajeh.
FT: Pengen tuh gw beli setir sama pedal biar bisa maen Ferrari, hehehehe…
AK: Wah sekalian aja beli korsinya yang bisa goyang-goyang kalo lo ngepot!
AB: Itu die tuh. Gw beli laptop dengan spek buat main gim, hahahahaha… denger-denger katanya sekarang ada monitor kompie yang gede abeeesss, 20 rebu Euro harganya, segede tembok. Masukin ke rumah aja repot.
FT: Wah buat main Ferrari asik tuh!

Lantas Antonella Vallenari dari Padua, Italia, ikut nimbrung. Saya ajak dia bicara, “Inilah boys with toys, anak-anak cowok lagi ngomongin game.”
“Wah, kenapa? Apa kamu gak nyambung dengan omongan mereka?” Tanyanya.
“Ya nyambung sih, cuman kaget aja, saya pikir astronom tu orang sibuk semuah. Kok bisa ya orang-orang sibuk ini masih punya waktu untuk main game?”
“Yaaa…itu kan manajemen waktu aja. Kirim aja jobid-nya ke server, udah deh sambil nunggu komputernya ngitung, main game, hehehehe…” jawab mbak-mbak cantik ini, yang makalahnya tentang kinematika bintang pernah ditunjukkan oleh Pak Bambang.
“Wah saya mah kalo nunggu running program komputer malah baca-baca paper tuh…habisnya banyak tugas seeh…”
“Ya saya juga mah kalo kerja gak mau main game…biar beres semua!”

Jangan-jangan Mbak Antonella juga hobi main game, hehehehe…

Written by Tri L. Astraatmadja

After living for 10 years in Europe as a Master's student, PhD researcher, and a postdoc, in 2016 Tri L. Astraatmadja moved on to the United States for a second postdoctoral appointment at the Department of Terrestrial Magnetism, Carnegie Institution for Science, Washington DC. He is now in his third postdoc at the Space Telescope Science Institute in Baltimore, MD.

6 comments

  1. omong masalah transfer data dari satelitnya dah kelar belum?
    gw denger bulan lalu di ujicoba di canary yak, pake teleskop yang dicanary buat penangkap sinyalnya.

  2. pake ip track neh, lumayan tri download lagu sama pelem. Sayang kalo pake saluran rumah buat dl dah gitu lama pulak.

    Ujicoba pake satelit lain dul. gile itu datanya bertera-tera. Dah gitu itu kapasitas CCD-nya menyeramkan betul.

  3. eh, astrometry?, tukang sensus benda langit?, anak buah tyco brahe ? itu satelit memory buffer nya berapa?, data transfernya berapa antara antara satelit dengan bumi?.

  4. hekekekekek… ternyata ya… kupikir astronom2 tulen tu kagak bakal sempet main gim… ceramah sana-sini, proyek sana-sini, blum lg klo observasi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: