Peringatan: Ada spoiler-nya. Baca atas risiko sendiri, jangan salahkan saya.

Dalam Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull, siluet Indiana Jones dan topi fedoranya terlihat lebih dahulu sebelum kamera menampilkan wajahnya. Serupa dengan Raiders of the Lost Ark yang hanya menampilkan siluet Indy sebelum akhirnya menampilkan wajahnya setelah hampir 10 menit. Dalam sebuah wawancara, Spielberg mengatakan bahwa Indiana Jones adalah satu dari sedikit karakter yang dapat ditampilkan dalam siluet dan tetap dikenali. Siluet ikonik Indiana Jones ini beberapa kali dimanfaatkan Spielberg untuk efek dramatik, dan dengan efektif menandai kemunculan kembali sang pahlawan setelah 19 tahun absen. Aku menonton film keempat Indiana Jones ini pada hari premiere di Amsterdam. Semenjak aku langganan Star Wars Insider sekitar 14 tahun lalu, berita tentang film ke-4 Indiana Jones sudah beredar dan film ini memang kutunggu-tunggu sejak tahun 1995an, barangkali lebih kuharapkan ketimbang prekuel Star Wars yang jadinya mengecewakan (Jar-Jar Binks? Midi-chlorian? Eugghh…). Setelah hampir 20 tahun semenjak The Last Crusade, kupikir ini pasti banyak nostalgianya. Ternyata memang betul: Spielberg dan Lucas sedang bernostalgia dengan Indiana Jones. Semua shot dan adegan dalam film ini mengingatkan kita pada seluruh adegan dalam ketiga film sebelumnya. Padang gurun Nevada mengingatkan kita pada Utah di tahun 1912 ketika River Phoenix beraksi di kereta sirkus. Kebut-kebutan di tengah-tengah hutan Amazon mengingatkan kita pada kebut-kebutan mahaseru di padang gurun Mesir dan perkelahian di atas tank di tengah padang gurun Alexandretta (yang sebenarnya adalah pengulangan dari Raiders), dan bahkan ada pula adegan Indiana Jones mengajar dan ternyata Area 51 juga menyimpan Ark of the Covenant.

Ya, hampir semua adegan dalam film ini bisa merupakan acuan terhadap tiga film sebelumnya, atau mengingatkan kita pada adegan yang kurang lebih serupa. Film-film Indiana Jones sudah punya polanya sendiri dan oleh karena itu mudah dikenali, ditambah dengan absennya tokoh ini setelah sekian lama membuat film ini ada film nostalgic dan sejujurnya tidak menawarkan sesuatu yang baru. Ini adalah feel good movie yang meyakinkan kita para penggemar bahwa memang hanya ada satu jagoan di dunia ini yaitu Indiana Jones. Sepanjang film aku jadi teringat kembali alasan-alasan kenapa Indiana Jones adalah sang jagoan: Dia jagoan karena dia manusiawi. Bisa berdarah dan berkeringat, punya rasa takut, namun juga berani. Kita ikut meringis bersamanya, dan lega bersamanya. Penampilan Harrison Ford sebagai Indiana Jones yang bau keringat, compang-camping, dan mimisan berdarah habis berantem kemudian menjadi stereotip “jagoan manusiawi” yang kemudian diikuti serentetan lainnya, dimulai dengan John McClane dalam Die Hard. Lewatlah sudah stereotip jagoan yang rambutnya masih rapi setelah habis meng-K.O. penjahat. Dan seluruh adegan dalam film keempat ini, menurut perasaanku, memang dibaktikan untuk mengenang seluruh interaksi kita dengan karakter ini. Sepanjang film, aku tersenyum-senyum karena adegan ini mengingatkanku pada adegan ini di seri ini. Kadang-kadang senyum nyinyir juga karena kok film ini akhirnya jadi hanya nostalgia saja dan tidak mengeksplorasi karakter Indiana Jones yang sudah 20 tahun lebih tua dari film terakhir. Barangkali Spielberg dan Lucas tidak hanya sedang bernostalgia tapi juga sedang meratapi hilangnya sentuhan magis mereka.

Serupa dengan seri-seri sebelumnya, Indiana Jones selalu berhadapan dengan kekuatan supranatural. Kemarahan tuhan selalu menjadi solusi: menutup cerita sekaligus menghukum si jahat. Rene Belloq dan tentara-tentara Nazi meleleh dibakar Ark of the Covenant, dewa-dewi Hindu menghukum Mola Ram, dan Yesus sendiri–melalui perantara cawan suci–menuakan Walter Donovan dan menyelamatkan bapaknya Indiana Jones. Kini, dalam seri keempat, terbukalah semua itu akan identitas “tuhan”, yaitu…alien. Dalam adegan terakhir, adegan “kemarahan tuhan” di mana sang pahlawan diselamatkan dan si jahat dihukum, alien menghukum Irina Spalko sebelum mereka berangkat dengan piring terbang (kenapa Irina Spalko harus dibunuh karena telah mengembalikan tengkorak kristal, itu yang kurang jelas. Apakah karena “pengetahuan adalah kejahatan dan keduanya tumbuh dari pohon yang sama?”). Dimasukkannya konsep alien dalam Indiana Jones sudah ditandai semenjak adegan pembuka yang setting-nya ada di Area 51 di Roswell, New Mexico.

Erich von Däniken tentu akan senang sekali bila menonton film keempat Indiana Jones ini karena Spielberg (atau Lucas?) menggantikan porsi mistisisme di balik kekuatan supranatural tersebut dengan alien, sebagaimana George Lucas menggantikan mistisisme di balik The Force dengan midichlorian. Sebelum ada Star Wars Episode I, The Force lebih mirip sebuah kekuatan supranatural dengan orde Jedi sebagai kultus agama, sebuah orde rahib. Banyak orang berpendapat bahwa mengintrodusir midichlorian justru membuat Star Wars jadi kehilangan aura mistis dan magis yang membuat cerita itu jadi besar. Ya, Star Wars menjadi besar karena sebenarnya ia adalah sebuah mitologi modern. Star Wars tidak jauh beda dengan Illiad atau Mahabharata, hanya saja diceritakan dalam bahasa fiksi ilmiah. Sama dengan itu, justru kekuatan supranatural adalah kekuatan serial Indiana Jones dan mengintrodusir alien untuk merasionalkan hal itu jadi mengurangi aura mistis yang selama ini sudah melekat dalam serial Indiana Jones. Ini merupakan hal yang baru dalam Indiana Jones tapi menurutku ini tak bekerja, sama halnya konsep Midichlorian tak bekerja. Entah ini ide siapa tapi kayaknya ini idenya George Lucas, barangkali masih belom kapok dia dengan ide midichlorian-nya. Dengan diperkenalkannya alien sebagai kekuatan supranatural di baik tengkorak kristal, bolehlah kita berkesimpulan bahwa Ark of the Covenant dan seluruh artefak mistik yang dicari Indiana Jones boleh jadi juga adalah instrumen alien. Sebagai proponen paleokontak, sekarang Erich von Däniken pasti sedang bersulang untuk Indiana Jones. Semenjak awal konsep-konsep dalam Indiana Jones memang hanya sekadar “McGuffin” agar cerita dapat berjalan dan Indiana Jones sebagai karakter dapat ditampilkan, namun kehadiran alien sebagai solusi menurutku adalah sesuatu yang kacrut, dan ada begitu banyak hal yang tidak dijelaskan dalam film dan ketegangannya tidak dibangun semenjak awal.

Tentang anaknya Indiana Jones: Apakah kita terkejut ketika Marion mengatakan bahwa Mutt adalah anaknya Indiana Jones? Enggak juga. Hal itu sudah demikian jelas semenjak kemunculan tokoh ini. Sepanjang film aku hanya bertanya-tanya saja kapan sih tokoh ini akan diperkenalkan sebagai anaknya Indiana Jones? Dan sebagaimana diduga, ditampilkanlah konflik singkat Bapak-Anak yang nampaknya kurang motivasi selain memang sudah kewajiban, dan kemudian diselesaikan dengan singkat. Kira-kira sepuluh tahun lalu, di internet sempat beredar skenario awal untuk Indiana Jones 4, menampilkan Marion Ravenwood dan seorang anak muda bernama Abner. Indiana Jones tidak muncul hingga separuh film dan praktis tokoh utamanya adalah si anak muda yang kemudian diperkenalkan sebagai anak Indiana Jones dari hasil buah percintaannya dengan Marion di kapal Bantu Wind. Tidak mengherankan bukan apabila sebagian ide itu kemudian diadopsi menjadi bagian dari skenario akhir? Aku tidak masalah dengan kehadiran anaknya Indiana Jones, tapi membuat dia melompat dari dahan ke dahan seperti Tarzan bersama monyet-monyet CGI lagi-lagi adalah sesuatu yang silly dan kacrut.

Di penghujung film, sebagaimana biasa, kembali Indiana Jones pulang dengan tangan hampa dan “fortune and glory” yang dikejarnya sepanjang kariernya adalah pengetahuan dan pengalaman. Akankah ada sekuel, dan apakah petualangan Indiana Jones akan diteruskan oleh anaknya? Barangkali tidak dan menurut pendapatku sebaiknya tidak. Biarlah Indiana Jones dewasa (sejauh ini ada lima orang aktor yang memainkan Indiana Jones dalam berbagai fase dalam hidupnya) hidup terus dalam ingatan kita sebagai Harrison Ford dan bukan oleh yang lain, dan biarlah anak Indiana Jones hidup tenang tanpa harus mengikuti jejak bapaknya. Adegan terakhir nampaknya menjadi pernyataan para pembuat film (paling tidak untuk saat ini) bahwa mereka tidak berniatkan mewariskan petualangan Indiana Jones pada Mutt: Ketika Mutt mengambil topi fedora Indy yang tertiup angin dan mencoba memakainya, Indy tiba-tiba merebutnya dan memakainya di kepalanya sendiri (topi fedora Indiana Jones adalah sebuah simbol akan kepahlawanan Indiana Jones dan tidak boleh lepas dari kepalanya kecuali lepasnya topi itu menyimbolkan sesuatu). Tentu saja ini berlawanan dengan adegan pembuka Indiana Jones and the Last Crusade ketika “Fedora” sang pemburu harta memakaikan topinya kepada Indy muda yang dimainkan River Phoenix, yang menjadi simbol pewarisan petualangan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kesimpulanku sejauh ini, setelah menonton untuk kedua kalinya, film ini adalah film kacrut yang telah merusak citraku tentang Indiana Jones. Aku mengenali Indiana Jones sebagai pahlawan yang aksi-aksinya sulit dipercaya, menantang akal, dan over the top. Jadi aku tidak punya masalah besar dengan Indiana Jones bertahan hidup dari ledakan bom nuklir, tapi bergelantungan di dahan bersama monyet-monyet, adu anggar di antara dua mobil, dan kemunculan alien adalah tiga hal paling kacrut yang sebaiknya tidak berada di dalam film Indiana Jones manapun. Seandainya skenario film ini digarap lebih baik, konsep alien-nya diperjelas, dan kehebatan tengkorak kristal diperjelas (dalam tiga film lainnya, terlepas dari apakah masuk akal atau tidak, kesaktian seluruh artefak selalu dijelaskan semenjak awal sehingga sangat jelas pertaruhannya apabila artefak tersebut jatuh ke tangan yang salah. Apa sebenarnya kesaktian tengkorak kristal, tak pernah ditekankan kehebatannya, sehingga bahaya akan perebutan artefak itu jadi tak terasa), barangkali kehadiran alien jadi tidak terlalu murahan.

Written by Tri L. Astraatmadja

After living for 10 years in Europe as a Master's student, PhD researcher, and a postdoc, in 2016 Tri L. Astraatmadja moved on to the United States for a second postdoctoral appointment at the Department of Terrestrial Magnetism, Carnegie Institution for Science, Washington DC. He is now in his third postdoc at the Space Telescope Science Institute in Baltimore, MD.

2 comments

  1. “Erich von Däniken tentu akan senang sekali bila menonton film keempat Indiana Jones ini”

    exactly my thought pas nonton felem ini kemaren. hahahaha…

    tapi menurut gue felemnya cukup menghibur.

    ah iya… ternyata tabut perjanjian disimpan di Area 51. pas salah satu kotak2 itu pecah, terlihat tabut perjanjian di dalamnya. hahahaha…

  2. Well…Ma, gw cukup terhibur selama satu jam pertama dan juga saat kejar-kejaran di tengah hutan…

    …tapi ketika Mutt mulai gelantungan di pohon gw jadi pengen keluar dari teater… 😦

    Oh ya…btw…ternyata Ark of Covenant diterjemahkan jadi tabut perjanjian ya…thanks!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: