Kejadiannya baru, hari Senin tanggal 29 Oktober 2007. Gw baru pulang dari kantor dan turun dari Stasiun Delft menuju Rolahola (Roland Holstlaan, asrama mahasiswa TU Delft tempat gw numpang sementara), naik sepeda. Seperti biasa lewat Industriestraat, eh pas di perempatan Industriestraat-Mercuriusweg, distop polisi pake senter karena memang sepeda gw kagak pake lampu (badung emang, ini dah dari Januari kagak pake lampu tapi baru ketangkap sekarang, hehehehe…). FYI untuk yang belum tahu, pada malam hari di Belanda wajib hukumnya bersepeda pakai lampu. Ketahuan bersepeda malam hari tanpa lampu, didenda. Masalahnya razia khusus untuk menangkap pengendara-pengendara sepeda badung ini amat jarang dan karena hampir setiap hari gw pulang larut malam, jadilah selama 11 bulan bersepeda tanpa lampu, gw gak pernah ketahuan. Kali ini…keberuntungan gw sudah habis rupanya.
Terjadilah pembicaraan antara si pesakitan yang ketahuan tidak pakai lampu, dengan bapak polisi yang mukanya mirip Si Joe. Botak dan mirip preman, hehehehe…
Polisi: “Waar is jou verlichting?” (mana lampunya?)
Gout: “Ik vergeet ‘t” (lupa pak. Alasan klasik, hehehehe…)
Polisi: “Heb je legitimatiebewijs, passport, of rijbewijs bij jou?” (Kamu bawa KTP, paspor, atau SIM?)
Dengan pasrah gout keluarkan verblijf (verblijfergunning alias residence permit alias izin tinggal) gout dan dibacalah sama pak polisi itu pake senter.
Polisi: “Wat is uw achternaam? Tri? Laksmana? Astraatmadja?” (nama keluarga kamu apa? Tri? Laksmana? atau Astraatmadja?)
Gout: “Mijn achternaam is Astraatmadja” (nama belakangnya Astraatmadja)
Polisi: “En je voornaam is Tri Laksmana?” (dan nama depan Tri Laksmana?)
Setelah mendapat konfirmasi, akhirnya dia mulai menulis data2 yang dibutuhkan ke dalam blanko denda.
Polisi: “En geboort je in Leiden?” (Kamu lahir di Leiden?)
Dia tanya itu karena melihat Verblijf gout dilegalisasi di Leiden.
Gout: “Nee…Ik geboort in Djakarta, Indonesie.” (wah bukan, saya lahir di Jakarta, Indonesia)
Polisi: “en jou geboortedatum?” (tanggal lahir?)
Gout: “Drie Maart, negentien รฉรฉnentachtig.” (rahasia, hehehehe…)
Polisi: “ALAMATNYA MANA?”
GUBRAAAK!!!…Bapak Polisi ternyata bisa Bahasa Indonesia! Gw liat2 dulu mukanya, jangan2 ini Joe…ternyata bukan meskipun botaknya mirip. Pengisian data selanjutnya dilanjutkan dengan bahasa Indonesia: alamat, kode pos, dan kota tinggal. Dia tanya2 pula, di sini ngapain dan sudah berapa lama. Sebagai gantinya dia cerita bahwa dia lahir di Jakarta juga, di Jalan Maluku di Menteng. “Wah anak menteng doong…” kata gout, hehehehe… lalu dia cerita sedikit soal kunjungan terakhirnya ke Indonesia tahun 2004 lalu, nginep di sini dan situ. Polisi di sebelah, koleganya, ketawa-ketiwi. Entah mengerti entah tidak.
Setelah itu dia menyerahkan blanko denda dan bilang, “Ini butuh 20 euro. Gak usah bayar sekarang, nanti dikirim pakai giro.” Habis itu gak tau deh mau ketawa-ketiwi karena ketemu polisi belanda yang anak menteng (hmmm…rasanya ini bukan pertama kalinya deh) atau nangis2 karena kehilangan 20 euro :p
Siapa namanya itu polisi anak menteng, tidak sempat terbaca…
Setelah dilihat-lihat berita dan koran pagi-pagi. Ternyata razia ini adalah bagian dari semacam operasi kilat jaya yang dilakukan Kepolisian Belanda untuk memperketat aturan tentang lampu sepeda. Sepeda yang dikendarai malam-malam memang harus berlampu, kalau ketahuan polisi akan didenda. Lampu tidak mesti menempel di sepeda tapi boleh juga menempel di badan, yang penting depan lampu warna putih dan belakang lampu warna merah. Banyak yang sepedanya tidak berlampu tapi pengendara sepeda mencantolkan lampu itu di badan mereka. Akhir-akhir ini aturan itu mau diperketat dan yang diperbolehkan hanya lampu yang menempel di sepeda. Oleh karena itu dalam minggu-minggu ini akan banyak ada razia untuk menegakkan aturan yang diperketat itu. Beritanya ada di sini, lengkap dengan infografisnya. Sori yah pakai bahasa Belanda, hehehehe…
Hikmahnya: Lain kali pulang dari kantor lebih malam yah, lembur terus! Hehehehehhe…

Leave a reply to astronomsableng Cancel reply