Hari Rabu ada paket dari FedEx tapi dengan bodohnya mereka tidak nelepon gue dan cuma menaruh nota di kotak surat, bahwa mereka datang tapi gue gak ada sehingga gue gak bisa teken tanda terima dan kalau perlu gue bisa mendownload formulir signature release yang membuat gue gak perlu tanda tangan dan paketnya bisa langsung dimasukin ke kotak surat. Stupid fiends.

Anyhow, akhirnya gue telepon saja FedEx bodoh itu dan gue bilang kalau gue akan datang langsung datang dan mengambil paketnya sendiri. Itu paket penting soalnya dan gue terburu-buru. Kalau udah mendesak gini gue hampir pasti dah gak ngitung ongkos. Dengan sekejap gue cek reisadvies dan hasilnya: untuk pergi ke Breguetlaan 25, which is kantornya FedEx, dari Leiden ambil kereta ke Schiphol lalu naik bis nomor 193 dan turun di halte Koolhovenlaan lalu jalan kaki 18 menit.

Sampai Schiphol, bisnya ternyata baru datang setengah jam lagi, shit. Dan gw lupa nyatet rute alternatif yang mungkin bisa nyambung-nyambung. Lagi nunggu-nunggu gitu tau-tau dari seberang jalan nongol bis nomor 193 yang jalan ke arah sebaliknya. Iseng-iseng gue nyebrang dan gw tanya, “Meneer, gaat u naar Koolhovenlaan?” (bang, Koolhovenlaan lewat gak?), eh supirnya bilang (gw lupa omongan Blendongnya gimane tapi intinya), “wah gak lewat tuh, harusnya kamu ambil bis ke arah sebaliknya. Tapi kamu naik aja lah, nanti di halte so-and-so kamu bisa pindah naik bus nomor 194,” ya udah gue naik deh. Gak ada penumpang sama sekali kecuali gw. Di jalan gitu ditanya, “baru sekali naik bus ya?” dengan lugunya gw jawab aja, “iye” hehehehe…kebiasaan buruk untuk manggut-manggut sok ngerti keluar deh.

Terus supirnya nanya, “mau kemane sih?” gue ceritakan saja bahwa gue mau ke Breguetlaan, kantor FedEx, untuk ngambil paket, dan bahwa menurut reisadvies seharusnya gw naik 193 ke arah sebaliknya. Lalu gue tunjukin nota dari FedEx dan gue tunjukin alamatnya, lalu si supir bilang, “ik wil brengen u naar Breguetlaan, alles klaar.” (nanti saya bawa kamu ke Breguetlaan, beres itu.” Lalu sebagai warga negara yang baik gw tanya dong ongkosnya, “Hoeveel strippen is het?” eh si supir jawab, “aah, nee. Ga zitten.” (udah duduk aje lo).

Sampai tempat tujuan, eh si supir malah bilang, “Ini gak boleh loh ya sebenernya naikin penumpang kalau lagi buiten dienst (gak dinas) ginih. Zo, het is illegal, ja?” Laaaahhh……ternyata supirnya emang baik pisan atuh, naikin penumpang di luar jam dinasnya, mumpung lagi lewat barangkali sambil pulang ke pool. Hebatnya doski kagak minta ongkos loh, gak kayak supir-supir angkot kita yang suka minta duit aji mumpung (tentu kondisi di Indonesia ya beda dong, dan itu bisa dipahami namanya juga hidup lagi susah. Kalau harus bayar pun juga gue gak keberatan). Udah gitu pas nyampe halte Breguetlaan, di halte ada temennya yang lagi nunggu bus mau pulang, dan supirnya sempet nanyain koleganya, “FedEx mana?” Lantas temennya nunjukin ke arahnya kantor FedEx (sebenernya waktu bisnya lagi jalan, dari jendela bis gw dah liat sih cuman emang dasar supirnya baik banget), dan sebelum gue turun si supir masih sempet menjelaskan bagaimana caranya balik lagi dan bagaimana membaca tabel jam kedatangan (lha gw dah tau kok, tapi dia pikir gue baru sekali ini naik bis kali ye. Emang baik banget deh itu sopir).

Sumpe deh ini agak-agak aneh karena beda banget dengan pengalaman gue berinteraksi dengan orang Belanda. Di Belanda segala sesuatunya begitu teratur, cerminan watak orang Belanda yang terobsesi dengan peraturan. Dan supir ini mau melanggar aturan mengangkut penumpang di luar jam kerjanya, sesuatu yang rada-rada aneh, karena rata-rata orang Belanda juga terkenal cuek dan tidak pedulian dengan urusan orang lain.

Apa motivasinya? Sayangnya gue gak sempet nanya. Duit? Jelas enggak, karena dia gak mengindikasikan mau minta duit. Ketika gue mau bayar pakai strippenkaart pun, dia bilang gak usah. Wajar, karena cap pada Strippenkaart tertera hari, jam, dan nomor bis yang gue naiki. Kalau iseng bisa gue laporin ini ke kantor bus dan dia langsung dipecat kali. Jadi memang dia mau menghindari masalah. Lagipula kalau dicap kan duitnya gak masuk ke kantong dia, tapi langsung masuk ke perusahaan bus, karena gue beli Strippenkaart bukan lewat supirnya langsung toh (kecuali Daalkartje yang berlaku satu kali naik).

Jadi jelas duit bukan tujuan doski mengangkut gue. Kemungkinannya tinggal: sekalian lewat kan mau pulang. Tapi kalau itu benar, maka dia melakukan dua hal yang tidak umum di Belanda: melanggar aturan dan gak cuek. Sebenarnya dengan mudahnya dia tinggal nunjukkin aja bis yang harus gw ambil dari Schiphol, yang sebenernya gw dah tau, eh dia malah ngajak gue naik sambil sekalian dia mau pulang 😀

Emang baik banget tuh supir.

Written by Tri L. Astraatmadja

After living for 10 years in Europe as a Master's student, PhD researcher, and a postdoc, in 2016 Tri L. Astraatmadja moved on to the United States for a second postdoctoral appointment at the Department of Terrestrial Magnetism, Carnegie Institution for Science, Washington DC. He is now in his third postdoc at the Space Telescope Science Institute in Baltimore, MD.

3 comments

  1. Asumsikan saja distribusi sifat orang Belanda mengikuti distribusi Gaussian, dan bahwa stereotip-nya adalah probabilitas tertinggi alias puncak dari distribusi tersebut, sementara supir bis tadi sudah ada di pinggir-pinggir distribusi, alias di x = 3\sigma, hehehehe… Sampai tiga sigma, probabilitasnya 99.73% loh, di luar itu ya berarti cuman 0.27%. Wah bener2 jarang emang ketemu supir kayak gitu, hehehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: