Mendengar tentang kamera merk Leica yang harga barunya bisa mencapai 20an juta (setara dengan harga kamera SLR digital) dan harga 2nd-nya bisa 6-10 juta, seorang teman bertanya:
Tri, apa sih bagusnya kamera itu, kok mahal amat? Apa krn barang antik aja? Mereknya jg baru denger..
Pendek kata, Leica adalah legenda fotografi.
Sampai awal abad ke-20, fotografer memotret dengan view camera, kamera jaman koboi yang kayak akordion dan harus ditaruh di atas tripod supaya tidak goyang. Klisenya luar biasa besar, mulai dari 10×12.5 cm (kira2 seukuran kartu pos) hingga 20×25 cm (kira2 hampir sebesar ukuran kertas A4), dan sangat tidak praktis untuk dibawa ke mana-mana. Belum lagi nyettingnya lamanya luar biasa.
Muncullah Oscar Barnack, yang pada tahun 1913 memproduksi kamera kecil pertama yang praktis: Kamera dengan ukuran klise 24×36 cm yang selanjutnya disebut kamera 35mm (ukuran yang sekarang menjadi ukuran standar film komersil yang dijual di toko2 kamera).
Kamera inilah prototipe kamera portable yang di kemudian hari menjadi kamera standar wartawan foto. Oscar Barnack bekerja untuk Ernst Leitz GmbH, sebuah perusahaan optik terkemuka di Jerman, dan kamera rancangannya diberi nama Leica, kependekan dari Leitz Camera.
Sejak saat itu kamera Leica mengalami banyak perkembangan, dan benar2 mengubah orang melakukan fotografi. Bergeserlah zamannya orang2 membawa kamera segede2 gaban, bawa2 tripod, muncullah fotografer dan fotojurnalis yang membawa kamera kecil. Fotojurnalisme (dan juga fotografi secara keseluruhan) berubah total karena orang kini dapat membawa kamera ke mana-mana dengan mudah dan menangkap momen2 paling penting di dunia.
Apakah hanya karena itu, menciptakan kamera 35mm pertama di dunia, maka kamera2 Leica berharga mahal? Mahal karena nama? Tidak juga, karena kamera Leica terkenal durabilitasnya, presisinya, dan stabilitasnya. Badan kamera Leica seluruhnya dari besi, tidak terbuat dari plastik. Desain mekanik Leica sangat presisi, memungkinkan kamera ini memotret dengan kecepatan shutter 1/4000 detik, bukan hal yang mudah untuk produsen kamera. Dan stabilitas: Leica berani memberani garansi bahwa kamera ini tetap bekerja dengan baik untuk segala kondisi: panas-terik-lembab-gersang-dingin-beku. Dan tambahan lagi: Leica berani membuktikan kualitas dagangannya dengan memberikan garansi seumur hidup.
Lensa2 Leica juga memiliki kualitas yang sama: tajam dan stabil. Buat foto dengan dua lensa: yang satu lensa bikinan leica dan yang satu bikinan…canon misalnya ๐ lalu perbesar hingga ukuran 60×90 cm, bisa dilihat bahwa foto bikinan lensa leica masih lebih tajam daripada foto bikinan lensa lainnya.
Hingga sekarang, ujung tombak produksi kamera Leica ada dua: Leica seri R (kamera SLR) dan Leica seri M (kamera rangefinder). Leica seri M lebih sukses karena dipercaya oleh fotografer2 terkemuka dan kualitasnya memang sangat tinggi.
Yang mencengangkan adalah, di abad digital ini Leica masih memproduksi seri M yang masih pakai film. Yang terbaru, Leica M7, diproduksi tahun 2002. Baru kira2 tahun ini Leica mengumumkan bahwa Leica M8 yang nanti akan dirilis adalah sebuah rangefinder digital. Setelah 50an tahun memproduksi seri M, akhirnya Leica M goes digital!
Jadi, leica adalah gabungan kualitas dan nama besar. Itulah makanya kamera leica M yang baru harganya bisa 30 jutaan perak (body-nya doang ๐ lensanya yang baru bisa 10-20 juta lagi) sementara yang bekas orang berani lepas 10 juta atau bahkan lebih.
Walaupun demikian, jangan keliru: orang jadi jago motret bukan karena doski pegang Leica ๐ Mengutip ucapan seorang fotografer:
N.B. Gw punya Kamera Canon yang desainnya mirip Leica, jadi semacam Leica2an hehehehe…murah tapi lumayan bagus (beli bekas dapat 250.000 perak bok). Ada orang yang sudah membandingkannya: Canonet vs. Leica

Leave a reply to ivie Cancel reply